Rabu, 04 Januari 2012
All About Rain
Rainy days...wahh tetap semangat yaa sahabat, karena ternyata Rasulullah juga suka jika hujan turun lho...baru tau khan? xixixiii...sy juga :D spt dlm hadits dibawah ya...
“Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata:”Kami bersama Rasulullah saw tertimpa hujan, maka Rasulullah saw membuka pakaian beliau sampai (tubuh beliau) terkena sebagian air hujan.”Maka kami berkata:”Ya Rasulullah, kenapa anda melakukan hal itu?” Beliau menjawab:”Karena sesungguhnya dia (hujan) adalah baru dari Rabb Subhanahu wa Ta'ala .” (HR. Imam Muslim)
keberkahan dan manfaat terkandung dalam pure H2O yg turun dr langit dengan laju percepatan yg luar biasa, menembus setiap hambatan udara untuk menyirami tanah2 kering dan memberikan senyum kepada hati setiap insan...dan sebuah skenario luar biasa, kadang Allah SWT pun mengembalikan cinta hamba kepadaNya lewat hujan ini... subhanallah yaaa... :)
Selalu ada hikmah dari semua ketetapan Allah SWT :) Seperti hujan, Allah telah menurunkan hujan sebagai rahmat di saat dibutuhkan oleh seluruh makhluk. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy Syuura: 28)
Keberkahan hujan terlihat pd manfaatnya spt yg Allah katakan dlm QS. Qaaf: 9 (yang artinya), “Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” ... yuk sahabat, kita pelajari hujan lebih lanjut ... yukkksss :)
do'a ketika turun hujan..’Aisyah radhiyallahu ’anha berkata, ”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, ”Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat" (HR. Bukhari)
Nah kalau hujannya lebat se-x, Rasulullah berdo'a: “Allahumma haawalaina wa laa ’alaina. Allahumma ’alal aakami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari [Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turunkanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan].” (HR. Bukhari)
nah, klo mendengar petir do'anya adalah “Subhanalladzi yusabbihur ro’du bi hamdihi wal mala-ikatu min khiifatih” (Mahasuci Allah yang petir dan para malaikat bertasbih dengan memuji-Nya karena rasa takut kepada-Nya).” (HR Bukhari)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Sobat IC…perkenalkan nama saya Alif, tokoh fiksi yang Insya Allah akan menemani Sobat IC semua dalam bertadabur ayat-ayat Al Qur’an melalui kisah. Semoga bisa menumbuhkan rasa cinta kita semua kepada Allah SWT, Al Qur’an, serta Rasulullah. Semoga juga bisa menumbuhkan rasa ingin tahu kita untuk terus menyelami kedalaman samudra Qur’an yang penuh dengan berbagai hikmah. Pada akhirnya, kita akan merasakan bahwa berinteraksi dengan Al Qur’an sungguh sangat nikmat, menyenangkan, menenangkan, menentramkan………….
****
Pagi yang cerah,…dengan senyum, dengan hati yang teramat bahagia Alif ditemani abahnya pagi itu pergi ke sekolah untuk mengambil nilai hasil belajarnya selama satu semester ini. Alif begitu yakin akan memperoleh nilai bagus, dan tentunya akan membahagiakan orang tuanya. Ia selama ini merasa sudah belajar dengan maksimal, PR nya selalu dikerjakan dengan baik, nilai ulangan harian pun tak pernah di bawah 9, apalagi nilai ujian semester tadi rata-ratanya tembus angka 9. Sungguh pencapaian yang luar biasa, pikirnya usaha dan kerja kerasanya selama ini tidaklah sia-sia.
Saat yang dinanti tiba. Dari luar kelas ia mengamati wajah abah dengan raut muka yang cerah menandakan kebahagiaan tak terkira. Dibukanya raport bersampul biru, ia perhatikan nilainya satu per satu. Semua persis seperti perhitungannya.
Menjelang tidur ia buka sekali lagi, ia perhatikan dengan seksama. Kali ini, tiba-tiba ia termenung lama…tiba-tiba butiran kecil keluar dari matanya. Alif menangis…jauh di dalam nuraninya, ia berfikir bahwa selama ini ia sudah berusaha keras untuk urusan nilai pelajaran di sekolahnya dan hasilnya pun cukup memuaskan. Tapi…sudahkan engkau bekerja keras untuk raport di akhiratmu kelak Alif!!!!, begitu bisikan keras yang terulang-ulang di hatinya.
Alif teringat ayat yang dibacakan kakak pendamping ekstrakurikuler Rohis di sekolahnya, Q.S Al Insyiqaq ayat 6 – 15.
يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحاً فَمُلَاقِيهِ -٦- فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ -٧- فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَاباً يَسِيراً -٨- وَيَنقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُوراً -٩- وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاء ظَهْرِهِ -١٠- فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُوراً -١١- وَيَصْلَى سَعِيراً -١٢- إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُوراً -١٣- إِنَّهُ ظَنَّ أَن لَّن يَحُورَ -١٤- بَلَى إِنَّ رَبَّهُ كَانَ بِهِ بَصِيراً -١٥-
Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhan-mu, maka kamu akan menemui-Nya (6).** Maka adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah kanannya (7), maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah (8), dan dia akan kembali kepada keluarganya (yang sama-sama beriman) dengan gembira (9). Dan adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah belakang (10), maka dia akan berteriak, “Celakalah aku!”(11), Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka) (12). Sungguh, dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan keluarganya (yang sama-sama kafir) (13). Sesungguhnya dia mengira bahwa dia tidak akan kembali (kepada Tuhan-nya) (14). Tidak demikian, sesungguhnya Tuhan-nya selalu melihatnya (15).
**Manusia di dunia ini baik disadari atau tidak adalah dalam perjalanan kepada Tuhan-nya. Dan pasti dia akan menemui Tuhan-nya untuk menerima pembalasan-Nya dari perbuatannya yang buruk maupun yang baik.
Dalam hatinya berkecamuk….
Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhan-mu, maka kamu akan menemui-Nya….
Ah…sudahkah aku bekerja keras, mempersiapkan diri untuk pertemuan dengan Allah,..Tuhan yang lisan ini mengaku mencintaiNya, bahkan senantiasa berucap bahwa, sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah…??? Sudahkah…aku mencurahkan waktu dalam hidup sebagaimana aku mencurahkan untuk urusan duniaku…
Maka adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah kanannya , maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada keluarganya (yang sama-sama beriman) dengan gembira..
Ya Allah, akankah kelak catatanku diberikan dari sebelah kanan. Akankah kelak aku menerimanya dengan senyum kebahagiaan sebagaimana aku mengambil raportku di sekolah, begitu suara lirih di hati Alif. Bagaimana hisabku kelak? mudah atau ah…tak sanggup aku membayangkannya. Akankah aku kembali berkumpul dengan keluargaku, bersama orang-orang tercinta di syurga…atau mendekam sendiri dalam gelap dan panasnya neraka…na’udzubillah. Padahal berkumpul dengan teman-teman Rohis saja malas…apakah pantas berkumpul bersama orang-orang sholeh di syurga kelak…ya Allah…sungguh Engkau Maha Pengampun.
Alif tak berhenti, ia buka Tafsir Fi Zhilalil Qur’an salah satu buku kesukaannya karya Ustadz Sayyid Quth, ia baca pelan,
Dari ‘Aisyah r.a, Rasulullah SAW bersabda, “barang siapa yang dipertanyakan di dalam hisabnya maka berarti ia akan disiksa.”
Alif semakin tak kuat menahan air matanya, ia terus berdoa sebagaimana doa yang diajarkan oleh Rasulullah. Dari ‘Aisyah r.a., ia berkata, “ aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa di dalam sebagian sholatnya.
“ Ya Allah, hisablah aku dengan hisab yang mudah”
Doa ini menutup kisah Alif kali ini. Insya Allah akan dilanjutkan di waktu berikutnya. Ikuti terus kisah si Alif ya….
Alif menutup perenungannya kali ini dengan doa :
Maha suci Allah dan segala puji bagiMu, saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, ampunilah segala kesalahan kami, kepadaMu kami bertaubat dan mohon ampun, dan kepadaMu kelak kami akan kembali ya Allah…
Tak lupa, ia sholat dan berdoa menjelang tidurnya, untuk menutup hidupnya hari ini dengan indah. Dalam hatinya ia selalu berharap kelak ia bisa benar-benar menutupnya dengan sangat indah…amin ya Allah..
Sobat IC…perkenalkan nama saya Alif, tokoh fiksi yang Insya Allah akan menemani Sobat IC semua dalam bertadabur ayat-ayat Al Qur’an melalui kisah. Semoga bisa menumbuhkan rasa cinta kita semua kepada Allah SWT, Al Qur’an, serta Rasulullah. Semoga juga bisa menumbuhkan rasa ingin tahu kita untuk terus menyelami kedalaman samudra Qur’an yang penuh dengan berbagai hikmah. Pada akhirnya, kita akan merasakan bahwa berinteraksi dengan Al Qur’an sungguh sangat nikmat, menyenangkan, menenangkan, menentramkan………….
****
Pagi yang cerah,…dengan senyum, dengan hati yang teramat bahagia Alif ditemani abahnya pagi itu pergi ke sekolah untuk mengambil nilai hasil belajarnya selama satu semester ini. Alif begitu yakin akan memperoleh nilai bagus, dan tentunya akan membahagiakan orang tuanya. Ia selama ini merasa sudah belajar dengan maksimal, PR nya selalu dikerjakan dengan baik, nilai ulangan harian pun tak pernah di bawah 9, apalagi nilai ujian semester tadi rata-ratanya tembus angka 9. Sungguh pencapaian yang luar biasa, pikirnya usaha dan kerja kerasanya selama ini tidaklah sia-sia.
Saat yang dinanti tiba. Dari luar kelas ia mengamati wajah abah dengan raut muka yang cerah menandakan kebahagiaan tak terkira. Dibukanya raport bersampul biru, ia perhatikan nilainya satu per satu. Semua persis seperti perhitungannya.
Menjelang tidur ia buka sekali lagi, ia perhatikan dengan seksama. Kali ini, tiba-tiba ia termenung lama…tiba-tiba butiran kecil keluar dari matanya. Alif menangis…jauh di dalam nuraninya, ia berfikir bahwa selama ini ia sudah berusaha keras untuk urusan nilai pelajaran di sekolahnya dan hasilnya pun cukup memuaskan. Tapi…sudahkan engkau bekerja keras untuk raport di akhiratmu kelak Alif!!!!, begitu bisikan keras yang terulang-ulang di hatinya.
Alif teringat ayat yang dibacakan kakak pendamping ekstrakurikuler Rohis di sekolahnya, Q.S Al Insyiqaq ayat 6 – 15.
يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحاً فَمُلَاقِيهِ -٦- فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ -٧- فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَاباً يَسِيراً -٨- وَيَنقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُوراً -٩- وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاء ظَهْرِهِ -١٠- فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُوراً -١١- وَيَصْلَى سَعِيراً -١٢- إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُوراً -١٣- إِنَّهُ ظَنَّ أَن لَّن يَحُورَ -١٤- بَلَى إِنَّ رَبَّهُ كَانَ بِهِ بَصِيراً -١٥-
Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhan-mu, maka kamu akan menemui-Nya (6).** Maka adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah kanannya (7), maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah (8), dan dia akan kembali kepada keluarganya (yang sama-sama beriman) dengan gembira (9). Dan adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah belakang (10), maka dia akan berteriak, “Celakalah aku!”(11), Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka) (12). Sungguh, dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan keluarganya (yang sama-sama kafir) (13). Sesungguhnya dia mengira bahwa dia tidak akan kembali (kepada Tuhan-nya) (14). Tidak demikian, sesungguhnya Tuhan-nya selalu melihatnya (15).
**Manusia di dunia ini baik disadari atau tidak adalah dalam perjalanan kepada Tuhan-nya. Dan pasti dia akan menemui Tuhan-nya untuk menerima pembalasan-Nya dari perbuatannya yang buruk maupun yang baik.
Dalam hatinya berkecamuk….
Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhan-mu, maka kamu akan menemui-Nya….
Ah…sudahkah aku bekerja keras, mempersiapkan diri untuk pertemuan dengan Allah,..Tuhan yang lisan ini mengaku mencintaiNya, bahkan senantiasa berucap bahwa, sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah…??? Sudahkah…aku mencurahkan waktu dalam hidup sebagaimana aku mencurahkan untuk urusan duniaku…
Maka adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah kanannya , maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada keluarganya (yang sama-sama beriman) dengan gembira..
Ya Allah, akankah kelak catatanku diberikan dari sebelah kanan. Akankah kelak aku menerimanya dengan senyum kebahagiaan sebagaimana aku mengambil raportku di sekolah, begitu suara lirih di hati Alif. Bagaimana hisabku kelak? mudah atau ah…tak sanggup aku membayangkannya. Akankah aku kembali berkumpul dengan keluargaku, bersama orang-orang tercinta di syurga…atau mendekam sendiri dalam gelap dan panasnya neraka…na’udzubillah. Padahal berkumpul dengan teman-teman Rohis saja malas…apakah pantas berkumpul bersama orang-orang sholeh di syurga kelak…ya Allah…sungguh Engkau Maha Pengampun.
Alif tak berhenti, ia buka Tafsir Fi Zhilalil Qur’an salah satu buku kesukaannya karya Ustadz Sayyid Quth, ia baca pelan,
Dari ‘Aisyah r.a, Rasulullah SAW bersabda, “barang siapa yang dipertanyakan di dalam hisabnya maka berarti ia akan disiksa.”
Alif semakin tak kuat menahan air matanya, ia terus berdoa sebagaimana doa yang diajarkan oleh Rasulullah. Dari ‘Aisyah r.a., ia berkata, “ aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa di dalam sebagian sholatnya.
“ Ya Allah, hisablah aku dengan hisab yang mudah”
Doa ini menutup kisah Alif kali ini. Insya Allah akan dilanjutkan di waktu berikutnya. Ikuti terus kisah si Alif ya….
Alif menutup perenungannya kali ini dengan doa :
Maha suci Allah dan segala puji bagiMu, saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, ampunilah segala kesalahan kami, kepadaMu kami bertaubat dan mohon ampun, dan kepadaMu kelak kami akan kembali ya Allah…
Tak lupa, ia sholat dan berdoa menjelang tidurnya, untuk menutup hidupnya hari ini dengan indah. Dalam hatinya ia selalu berharap kelak ia bisa benar-benar menutupnya dengan sangat indah…amin ya Allah..
Selasa, 08 November 2011
Rabu, 02 November 2011
Ghuroba Si Generasi Idaman
Adalah kisah
kehidupan Ibrahim di era kejayaan seorang raja yang bernama Namrud bin Kan’an
(sekitar 1943-2275 SM) , penguasa diktator dari bangsa Babylon yang menjadi
tiran bagi dakwah nabi Ibrahim di tengah keluarga dan masyarakatnya.
Kegigihan dan
kecerdasannya dalam menyebarkan “misi illahi” menimbulkan murka raja Namrud dan
bala tentaranya. Kekuasaan dan kekuatan yang dimiliki oleh Namrud tidak
menyurutkan semangat Ibrahim dalam berdakwah, walaupun Namrud selalu bersikap
keras dan intoleran. Melihat proses dakwah nabi Ibrahim semakin menunjukkan
hasil, Namrud mengeluarkan intruksi kontroversial, yaitu eksekusi dengan
membakar Ibrahim secara hidup-hidup.
Apakah Ibrahim
menjadi ciut nyali dengan ancaman ini? Apakah Ibrahim menghentikan proses
dakwahnya agar selamat dari bahaya yang mengancam jiwanya? Di sinilah, kita
bisa melihat ketegarannya saat menghadapi cobaan, kebulatan tekad dalam
melaksanakan kewajiban dakwah kepada masyarakat untuk meng-Esakan Allah SWT
membuatnya pantang untuk menyerah, dengan segala konsekuensinya ia tetap
mendengungkan “kalimat tauhid”.
Keteguhan sikap
yang dimiliki oleh Ibrahim ini akhirnya membuahkan hasil, Tuhan tidak
membiarkan kekasihnya sendirian dalam menghadapi keganasan Namrud hambanya yang
sangat dzalim. Jilatan api yang memanggang nabi Ibrahim saat itu telah
perintahkan jinak tidak mampu membakar tubuhnya. (Qs. al Anbiya: 69). Kisah pergulatan akidah antara nabi Ibrahim
dengan keluarga dan masyarakat pada zamannya ini dapat kita lihat secara detail
dalam al Quran melalui surat al Anbiya ayat 52 - 70.
Merujuk kepada kisah Nabi Ibrahim as dan para nabi
dan rasul yang lainnya, termasuk Rasulullah Muhammad saw. Mereka hadir untuk
memperbaiki kondisi ummat. Kondisi tak ber-Tuhan atau menyembah Tuhan yang
salah seperti berhala-berhala yang nge-trend pada saat itu. Sama halnya dengan
sifat yang berkembang di kalangan pemuda, ada semboyan “apa pun yang terjadi,
yang penting teteeeeep eksis boo…”. Setiap keyakinan, setiap pola hidup, setiap
konsepsi, setiap budaya selalu berkeinginan untuk terus menerus eksis, tinggal
lebih lama, atau tidak akan pernah hilang.
Kekhawatiran pun timbul di kalangan generasi tua
pada waktu itu. Sebut saja Raja Namrud, Fir’aun, Kafir Quraisy yang khawatir
kebiasaan turun temurun menyembah berhala tidak diwarisi oleh generasi mudanya.
Berkaitan dengan pewarisan nilai-nilai tersebut, maka pemuda akan menolak jika
yang diwariskan itu nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai keimanan dan
keislaman. Karena tidak hanya salah, namun juga bertentangan dengan logika
berfikir manusia. Sebagaimana Ibrahim menolak untuk menyembah berhala buatan
ayahnya. Dan sebagaimana ia menghancurkan berhala-berhala milik Raja Namrud.
Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada Bapaknya, “Wahai
bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak dapat mendengar, tidak
melihat dan tidak dapat menolong sedikitpun ?” (QS. Maryam (19):42)
Ibrahim mengetahui bagaimana membuat berhala, ia juga tahu motivasi ayahnya
membuat berhala semata-mata hanya motivasi ekonomi, dan Ibrahim tahu persis
mengapa Namrud mengajarkan penyembahan berhala kepada kaumnya.
Pemuda Sebagai Generasi Penerus
Setiap pemuda
adalah penerus tongkat estafet peradaban. Mau dibawa kemana arah peradaban ini
tergantung dari keinginan dari para pemuda untuk mengusahakannya. Tentu saja
kondisi yg lebih baik merupakan cita-cita dari kita semua. Untuk mengusahakan kondisi
yg lebih baik tersebut hendaknya para pemuda sudah mempersiapkan sejak kini,
Utamanya adalah persiapan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Sebagaimana
dalam ayat Allah yg artinya:
"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baiknya
bekal adalah takwa dan bertakwalah kepadaKu hai orang-orang yang berakal." (Q.S.
Al-Baqarah 197)
Kemudian perjuangan
untuk melakukan perubahan tidak berhenti saja di masa Nabi Ibrahim as.
Perjuangan untuk memperbaiki kondisi penyembahan kepada berhala berlanjut
hingga masa Rasulullah Muhammad saw bersama para penentangnya yaitu para
penyembah berhala. Pada masa itu, selain masyarakat banyak menyembah berhala,
kondisi juga diperparah dengan adanya serangkaian prilaku jahil (bodoh) lainnya
seperti system perbudakan (jual beli manusia), pembunuhan dengan cara mengubur
hidup2 anak perempuan, khamr dan judi, dll.
Dan sampailah pada masa
sekarang, dimana kejahilan/kebodohan, penyembahan terhadap berhala, dan
pengingkaran terhadap Allah SWT dapat ditutupi/dikamuflasekan atas nama trend,
gaya hidup (lifestyle), ataupun kebebasan/hak masing-masing individu. Contohnya
sebut saja trend konsultasi terhadap cenayang/ahli metafisik/paranormal,
ramalan bintang, pakaian yg tidak menutup aurat, budaya minum minuman keras,
dll.
Nah, siapa yg wajib
meneruskan misi menegakkan kebenaran agama Allah SWT ini..tentu saja kita
sebagai generasi selanjutnya. Dan bisa dipastikan kemungkinan besar tidak akan
setenar para Nabi dan Rasul dalam memperbaiki kondisi kejahilan, atau para
pahlawan pembela negeri. Namun cukuplah nama kita tercatat di hadapan Allah
sebagai orang yg memperjuangkan tegaknya kebenaran Allah di muka bumi ini.
Pemuda Sebagai Generasi Pengganti
Dalam setiap perubahan yang ada di dunia ini
selalu diawali dan digerakkan oleh para pemuda. Perubahan bisa menjurus ke arah
kebenaran (keimanan) dan kesesatan. Islam memang memandang pemuda sebagai
manusia yang penuh tanggung jawab yang harus melakukan perubahan ke arah
kebenaran. Jika pada kenyataannya para pemuda tidak melakukan perubahan ke arah
kebenaran, maka Allah akan mendatangkan pemuda-pemuda lainnya yang lebih baik
dengan kriteria sebagai berikut : (QS. An Nisaa 4:54)
-
Allah cinta kepada mereka, mereka pun mencintai Allah
-
Bersikap lembut terhadap sesama muslim dan bersikap keras
kepada orang kafir
-
Tidak takut celaan orang-orang yang mencela
Dari ayat tersebut tergambar bahwa bila para
pemuda pada suatu masa tidak berlaku mencintai Allah SWT, tidak melakukan usaha
perubahan kondisi menjadi lebih baik lagi, dan takut ketika ia melakukan
perbaikan ia akan dicibir atau dicela oleh orang-orang yg melakukan keburukan,
maka masa dari pemuda tersebut akan berakhir dalam waktu singkat. Dan Allah
akan mendatangkan para pemuda baru dari generasi selanjutnya untuk mengubah
kondisi menjadi lebih baik lagi.
Berikut adalah contoh para pemuda yg memiliki
catatan indah di hadapan Allah SWT.
· Kisah Ashabul Kahfi
Sikap tegas menolak paksaan dari
penguasa dzalim yang dilakukan oleh Raja Deqyanus memaksa para pemuda Ashabul
Kahfi agar bersedia mengikuti aliran
kepercayaan menyembah sesembahan selain Allah SWT. Para pemuda itu menolak dan
berkata tegas “Tidak!”. Sebagaimana
dalam firman Allah (artinya)
“Pada waktu mereka
berdiri tegak (di hadapan raja yang dzolim) lalu mereka berkata : “Robb kami
adalah Robb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyembah Ilah selain Dia,
sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh
dari kebenaran (QS. Al Kahfi 18:14)
Para pemuda Ashabul Kahfi
tersebut tidak bersedia mengikuti perintah raja yang dzolim, mereka tidak
mengikuti kepercayaan untuk menyembah berhala yang dipaksakan penguasa, mereka
tetap menyembah Allah Yang Mahakuasa.
Pemuda Sebagai Generasi Pembaharu
Secara
fithrah, orang-orang yang lemah akan mencari perlindungan kepada yang lebih
kuat. Yang tergolong kepada orang-orang yang lemah antara lain : orang tua,
wanita, dan anak-anak. Dan tentu saja kepada pemuda, yang diharapkan untuk
menjadi seorang pemimpin. Untuk menjadi seorang pemimpin, pemuda harus
mempunyai beberapa persyaratan sebagai berikut :
- Keyakinan (Aqidah) yang Benar
Artinya bahwa para pemuda yang
diharapkan menjadi generasi pembaharu (memperbaiki generasi sebelumnya)
haruslah pemuda yang menjatuhkan pilihannya kepada keyakinan (aqidah) yang
benar, yaitu aqidah Islamiyyah.
“Katakanlah, sesungguhnya
sholatku, ibadahku (pengabdianku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Robb
semesta alam” (QS. Al An’am (6) : 162)
“Janganlah kamu bersikap lemah
dan janganlah kamu bersedih hati, padahalkamu adalah orang-orang yang paling
tinggi (derajatnya), jika kamu benar-benar orang yang beriman (QS. Ali Imran (3) :139)
dengan aqidah (keyakinan)
itulah para pemuda menjadikan titik tolak segala tingkah laku dan perbuatannya,
arah perjuangannya dan pengorbanan dari resiko yang akan dihadapinya.
- Pemikiran yang Cemerlang (wadhih)
Selain
dari keyakinan, kematangan operasionalnya pun harus dipersiapkan. Yaitu dengan
pola pikir yang cemerlang, jelas berwawasan ke masa depan, terutama ukhrowi dan
juga dunia. Sehingga dengan demikian dapat memilah antara pemikiran kebenaran
(keimanan) dengan alam pemikiran kejahatan (kebathilan). Jadi nilai-nilai yang
haq dan yang bathil jelas terlihat di hadapannya, dan ia dapat mensikapinya
bukan mencapuradukkannya.
“Dan
janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu
sembunyikan yang haq itu sedangkan kamu mengetahui” (QS. Al Baqoroh (2) : 42)
“Dan janganlah kamu mengikuti apa
yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, sesungguhnya pendengaran,
penglihatan, dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya” (QS. Al Isro’ (17) :36)
So, ketika budaya atau
kebiasaan negatif terjadi di sekitar kita, hal yang pertama harus kita ambil
adalah tidak mengikutinya. Kemudian mengusahakan bagaimana pemikiran yang
cemerlang dari diri kita mampu membuat kebiasaan baru yang lebih positif.
- Akhlaq yang terpuji
Seorang generasi pembaharu
tidak akan mampu memperbaiki keadaan jika akhlaq yang dibawanya , atau yang dilakukannya
bertentangan dengan yang aqidah diyakininya. Oleh karena akhlaq merupakan modal
yang cukup penting untuk mewujudkan nilai-nilai al-Haq (Islam)
Seseorang yang sudah
berinteraksi dengan nilai-nilai Islam haruslah mempunyai kepribadian yang
Islami. Seperti halnya akhlaq Rosulullah saw yang merupakan contoh teladan bagi
generasi muslim bahwa sistem hidup ajaran Islam yang utuh dapat diamalkan oleh
umat manusia.
- Jasad (Fisik) yang Kuat
Selain faktor-faktor tersebut
di atas, tentunya tidak akan berdiri kuat jika tidak ditopang oleh badan yang
sehat, fisik yang kuat. Karena kelemahan fisik akan banyak mempengaruhi lancar
tidaknya kegiatan yang dilakukan.
dari sahabat Abu Hurairah, Bersabda Rasulullah, “Mu’min yang kuat
lebih dicintai Allah dari mu’min yang lemah, dan masing-masing memiliki
kebaikan. Bersemangatlah terhadap hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mohonlah
pertolongan kepada Allah dan jangan merasa malas, dan apabila engkau ditimpa
sesuatu maka katakanlah “Qodarulloh wa maa syaa’a fa’al, Telah ditakdirkan oleh
Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi”. (HR. Muslim)
Oleh karenanya Rosululloh SAW
menganjurkan untuk berolah raga, yaitu olah raga berenang, berkuda (mengendari
kendaraan), dan memanah (ketangkasan alat). Di samping untuk menyehatkan fisik
juga untuk membiasakan tangkas terhadap alat, perkakas maupun teknologi, juga
terlatih untuk mengendarai kendaraan. Pemuda
dengan segala potensi dan peranan yang diembannya membutuhkan suatu pendidikan
dan pembinaan yang mengantarkan mereka kepada pemuda yang berjiwa besar, kuat
dan shabar untuk merentas jalan kehidupan yang berliku ini guna menegakkan
Islam. Sehingga sosok pribadi seorang muslim yang mantap itu dapat senantiasa
harum dan menjadi contoh baik kepada generasi berikutnya, amal shalih yang
pahalanya mengalir sepanjang masa. Insya Allah.
Peran dan Posisi Pelajar Muslim
Dengan segala kelebihan-kelebihan potensi
tersebut, sebagai seorang pelajar muslim kita memiliki peran dan posisi yang strategis
yang harus dimainkan, yaitu :
1. Iron Stock (Cadangan Masa Depan)
Suatu saat, pemuda akan mengambil peran dalam
kehidupan. Mengganti generasi terdahulunya. Persiapan menjadi pribadi yg
memiliki spiritual, intelektual, dan emosional yang baik merupakan harapan masa
depan untuk membangun perdaban yang lebih baik lagi dibanding dengan saat
ini. Oleh karena itu persiapan yang
optimal menjadi seorang remaja muslim yang baik merupakan hal yang tak bisa
ditunda lagi untuk dilakukan.
2. Agent of Change (Pelopor Perubahan)
Di tangan pemudalah berbagai perubahan terjadi, dari kemerdekaan bangsa
pembangunan negara hingga kemerosotan
moral, adalah pemuda yang paling banyak memiliki peran. Pemuda dengan segenap
potensinya bisa jadi peloporan perbaikan umat yang hebat tetap bisa juga
menjadi penghancuran umat yang dahsyat. Kita sendiri yang akan menentukan
pilihan yang positif atau negatif, baik atau buruk, taqwa atau jujur. Maka
jangan heran kalau di satu sisi banyak bertebaran da’i muda tetapi di sisi lain
banyak sekali pemabuk remaja. Life is a
choice, so we better have a good choice for our life in this beautiful earth
and after we meet Allah someday.
Tugas Pelajar Muslim
Untuk dapat berperan dalam posisi yang benar,
tentu saja pelajar muslim harus mempersiapkan diri hal-hal yang harus
dipersiapkan, itulah yang menjadi tugas seorang pelajar muslim :
1. Belajar
dan menguasai IPTEK
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan”. (HR. Ibnu Majah).
Hal ini
merupakan konsekuensi kita seorang pelajar. Belajar di sini dalam arti
seluas-luasnya, maksudnya bukan aktivitas duduk di depan meja, tenang, baca
buku malam hari, atau jika perlu sampai pagi hari. Itu pengertian belajar yang sangat
sempit sekali. Tujuan belajar itu adalah ilmu bertambah dan paham akan ilmu
tersebut. Dengan kata lain, hakikat hidup ini adalah belajar. Mempelajari
segala sesuatu yang ada di dalam dan di luar langit dan bumi ini untuk
dikembangkan dan diambil mashlahat dan manfaatnya. Sebagaimana firman Allah
sbb:
“Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya
siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS.Ali Imran 3 :190)
2. Belajar
dan Memahami Islam (QS. 3:18, 35:28, 58:11)
Sebagai
konsekuensi kita seorang muslim.
Pada
dasarnya setiap manusia yang dilahirkan adalah fithrah (Islam), maka ia adalah
seorang muslim. Dan konsekuensinya dia harus paham dengan apa yang dianutnya.
Dengan demikian manusia harus belajar apa itu Islam dan apa saja yang
dikandungnya, yaitu dengan mempelajari Al Qur’an dan Sunnah Rasul. Karena Islam
memandang, bahwa umat Islam akan mengalami kemajuan dan kesuksesan, manakala
umat Islam senantiasa merujuk Al Qur’an dan Sunnah Rosul dalam setiap tingkah
laku di segala aspek kehidupan. Dan sebaliknya, seorang muslim akan mengalami
kemunduran dan kehancuran ketika ia telah meninggalkan Al Qur’an dan Sunnah
Rosul sebagai pedoman hidupnya.
3. Mengimani
Segenap Ajaran Islam (QS. 24:51, 2:165, 3:31, 53:3-4)
Sebagai
konsekuensi sebagai seorang muslim yang terpelajar
Tidak
sekedar paham Islam saja, karena pahan itu tempatnya di otak dan itu semua
butuh diyakini.
4. Mengamalkan
dan menda’wahkan Islam (QS. 103:1-3, 3:110, 2:44, 41:33)
Sebagai
konsekuensi kefahaman dan keimanan seorang muslim yang terpelajar, Allah akan memberi
balasan hanya kepada amal kita. Jadi meskipun ilmu kita setinggi langit, namun apabila
tidak diamalkan akan sia-sia. Ibnu Qoyyim pernah berteori tentang psikolog
kognitif, beliau mengatakan “setiap hati kita akan jumpai lintasan atau pikiran
dari melihat, mendengar, meraba, dll. Lalu dari situ termemorikan di otak. Jika
lintasan itu sering lewat akan menjadi gagasan. Jika gagasan kuat dalam diri
kita, maka akan menjadi keyakinan. Lalu bila keyakinan kuat, akan menjadi
kemauan, sehingga kita akan melakukannya menjadi suatu tindakan. Dan bila
sering dilakukan, maka akan menjadi kebiasaan, jika itu berlangsung lama akan
menjadi watak. Jika sudah sampai yang akhir ini, maka akan susah dihilangkan.
Kemudian itu semua tidak cukup hanya untuk kita saja, sebisa mungkin untuk
ditularkan atau mengajarkan atau menda’wahkan ilmu yang kita miliki ke
orang-orng sekitar kita. Proses mengajarkan atau mengingatkan orang lain ini
dapat dilakukian dengan berbagai cara yang kreatif dan menyenangkan pula. Sebut
saja media Majalah Dinding (Mading) sekolah, teater, seni nasyid, kaligrafi dan
masih banyak lagi.
So, saatnya menebarkan keindahan Islam dengan
penuh kreatifitas yang tidak bertentangan dengan aturan Allah dan penuh
keceriaan kepada siapa pun. Karena apa..? Karena kita bersaudara dan karena
Islam adalah rahmat bagi semua. J
ALLAH Segalanya Bagiku
Banyak artis yang dulu bahagia di puncak karirnya
akhirnya terhantui rasa ”gundah” karena kebahagiaan permanen yang dijanjikan
oleh harta dan popularitas tak kunjung tiba. Sementara konsep ke-Tuhanan yang
di ajarkan agama terdahulunya tidak mampu mengantarkan pada ketenangan
batin.
Sebut saja Cat Steven (kini Yusuf Islam) seorang
penyanyi top Inggris di era 70-an hati yang serba tidak menentu, yg sebelumnya
beragama nasrani ia mulai mencari jalan kedamaian. Budhisme dan falsafah Cina
adalah pintu pertama yang ia ketuk. Tidak puas. Ia pun beralih ke faham
komunis. Kembali tidak puas. Sebab menurutnya konsep ini tidak sesuai dengan
fithrah manusia. Hingga akhirnya pada tahun 1975 ia dihadiahi Al Qur’an dari
kakak kandungnya. Melalui jalan inilah hidayah Allah datang kepadanya. Dan kini
ia pun menjadi salah seorang muslim yg memperjuangkan Islam di Eropa.
Nah kalo di luar negeri
sana selain Cat Steven masih banyak lagi mereka yg kini jadi muslim yg taat.
Sebut saja Will Smith, Cassius Clay alias Muhammad Ali, Antonio Banderas, Emma
Clark, Shah Rukh Khan, dll. Klo yg local dari Indonesia juga ada, sebut
saja penyanyi Chrisye.alm, Ebiet G Ade, WS Rendra, Dian Satro, Verawati Fajrin
(atlet bulutangkis), Natalie Sarah, Sandrina Malakiano, dll…
Dari mana mereka semua
mengenal Allah dan agama Islam ? mereka mengenal Allah bukan melalui zat Allah
tetapi lewat tanda-tanda kebesaran-Nya dan lewat ayat-ayat-Nya. Bahkan
ayat-ayat Allah tersebut terdapat di dalam tubuh kita sendiri. Coba
kita perhatikan firman Allah SWT berikut ini yang terdapat dalam surah
Ath-Thariq:
"Maka hendaklah
manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang
terpancar. Yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada. Sesungguhnya
Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati)."
Dalam ayat di
atas, Allah SWT menyuruh manusia untuk berpikir dan meneliti, bagaimana ia
diciptakan? Dan dari apa dia diciptakan? Jawabannya: Dari air! Sebagaimana kita
jelaskan sebelumnya. Namun dalam kalimat berikutnya, Allah menyebutkan sifat
dari air itu dengan kata ‘daafiq’. Artinya air yang bergerak dan hidup. Dan hal
inilah yang telah dibuktikan oleh ilmu pengetahuan modern. Berdasarkan sains, spermatozoon bergerak
dengan menggunakan ekornya menuju sel telur untuk melakukan pembuahan. Lalu,
bagaimana manusia tidak memperhatikan kebesaran Allah yg terdapat pada
tubuhnya.
Dan Allah
memberikan segalanya kepada manusia sebagai muara cinta-Nya. Langit dan bumi yg
dapat dijadikan tempat tinggal, energy sinar matahari dan udara yang serba
gratis. Lalu manusia yg Allah hanya minta untuk beribadah kepadanya masih
sangat lalai dan alpha.
Jika manusia
sering diberi sesuatu oleh manusia lain amak lama-kelamaan akan tumbuh cinta.
Lalu bagaimana dengan Allah SWT yg tiada henti memberikan segala sesuatunya
kepada kita? Sudah seharusnya kita membalas cinta Allah dengan menjadikan Allah
sebagai segalanya bagi kita. Kalau kita mencintai Allah, sudah seharusnya kita
membuktikan rasa cinta kita lewat beribadah kepada-Nya. Dan cinta kepada Allah
SWT dalam bahasa arab dikenal dengan istilah “Ma’rifatullah”.
Makna Ma’rifatullah
Ma'rifatullah
berasal dari kala ma’rifah dan Allah. Ma'rifah berarti mengetahui,
mengenal. Mengenal Allah bukan melalui zat Allah
tetapi mengenal-Nya lewat tanda-tanda kebesaranNya (ayat-ayatNya).
Pentingnya Ma’rifatullah
·
Seseorang yang mengenal Allah pasti akan tahu tujuan
hidupnya dan tidak tertipu oleh fatamorgana dunia (QS 51:56) .
·
Ma’rifatullah merupakan ilmu yang tertinggi yang harus
difahami manusia (QS 6:122).
Hakikat ilmu adalah memberikan
keyakinan kepada yang mendalaminya. Ma’rifatullah adalah ilmu yang tertinggi
sebab jika difahami memberikan keyakinan mendalam. Memahami Ma’rifatullah juga
akan mengeluarkan manusia dari kegelapan kebodohan kepada cahaya hidayah yang
terang [6:122] .
·
Berilmu dengan ma’rifatullah sangat penting karena:
a)
Berhubungan dengan obyeknya, yaitu Allah Sang Pencipta.
b)
Berhubungan dengan manfaat yang diperoleh, yaitu
meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, yang dengannya akan diperoleh
keberuntungan dan kemenangan.
Jalan untuk lebih mengenal Allah
Untuk lebih menumbuhkan rasa cinta kepada Allah SWT, mari kita check sebuah
ayat “Kauniyah” (ayat yg tersebar di
alam raya) yg menunjukkan kebesaran Allah SWT dalam QS. An-Nahl: 10-17 yang
artinya:
Dia-lah yang telah
menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan
sebagiannya menyuburkan tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu
menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu
tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur, dan segala macam buah-buahan.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah)
bagi kaum yang memikirkan. Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan
bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan
perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda
(kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya), dan Dia (menundukkan pula) apa
yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan
Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran. Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan
lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan),
dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu
melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari
karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. Dan Dia menancapkan gunung-gunung di
bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan)
sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, dan Dia ciptakan)
tanda-tanda (penujuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat
petunjuk. Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat
menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
Ayat kauniyah juga
terdapat dalam beberapa ayat dlm A-Qur’an seperti pada :
1. fenomena
terjadinya alam (52:35),
2. fenomena kehendak
yang tinggi(67:3)
3. fenomena kehidupan
(24:45)
4. fenomena petunjuk
dan ilham (20:50)
Sedangkan di dalam
A-Qur’an terdapat pula ayat “Qouliyah” seperti pada:
1. keindahan Al-Qur'
an (2:23)
2. pemberitahuan
tentang umat yang lampau [9:70]
3. pemberitahuan tentang
kejadian yang akan datang (30:1-3, 8:7, 24:55)
Untuk lebih
mengenal Allah dapat juga dilakukan dengan memahami Nama-nama Baik Allah atau
Asma’ul Husna. Beberapa contohnya yaitu:
1.
Allah sebagai Al-Khaliq (40:62)
Allah sebagai Al-Khaliq (40:62)
2. Allah sebagai
pemberi rizqi (35:3, 11:6)
3. Allah sebagai
pemilik (2:284)
Hal-hal yang menghalangi ma’rifatullah
1.
Kesombongan (QS 7:146; 25:21).
2.
Dzalim (QS 4:153) .
3.
Bersandar pada panca indera (QS 2:55) .
4.
Dusta (QS 7:176) .
5.
Membatalkan janji dengan Allah (QS 2:2&-27) .
6.
Berbuat kerusakan/Fasad .
7.
Lalai (QS 21:1-3) .
8.
Banyak berbuat maksiyat .
9.
Ragu-ragu (QS 6:109-110)
Semua sifat diatas
merupakan bibit-bibit kekafiran kepada Allah yang harus dibersihkan dari hati.
Sebab kekafiranlah yang menyebabkan Allah mengunci mati, menutup mata dan
telinga manusia serta menyiksa mereka di neraka. (QS 2:6-7)
Langganan:
Postingan (Atom)




