Rabu, 04 Januari 2012

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui" (Q.S Al-Baqarah:261)
 
All About Rain 
 
Rainy days...wahh tetap semangat yaa sahabat, karena ternyata Rasulullah juga suka jika hujan turun lho...baru tau khan? xixixiii...sy juga :D spt dlm hadits dibawah ya...
“Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata:”Kami bersama Rasulullah saw tertimpa hujan, maka Rasulullah saw membuka pakaian beliau sampai (tubuh beliau) terkena sebagian air hujan.”Maka kami berkata:”Ya Rasulullah, kenapa anda melakukan hal itu?” Beliau menjawab:”Karena sesungguhnya dia (hujan) adalah baru dari Rabb Subhanahu wa Ta'ala .” (HR. Imam Muslim)
keberkahan dan manfaat terkandung dalam pure H2O yg turun dr langit dengan laju percepatan yg luar biasa, menembus setiap hambatan udara untuk menyirami tanah2 kering dan memberikan senyum kepada hati setiap insan...dan sebuah skenario luar biasa, kadang Allah SWT pun mengembalikan cinta hamba kepadaNya lewat hujan ini... subhanallah yaaa... :)
Selalu ada hikmah dari semua ketetapan Allah SWT :) Seperti hujan, Allah telah menurunkan hujan sebagai rahmat di saat dibutuhkan oleh seluruh makhluk. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy Syuura: 28)
Keberkahan hujan terlihat pd manfaatnya spt yg Allah katakan dlm QS. Qaaf: 9 (yang artinya), “Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” ... yuk sahabat, kita pelajari hujan lebih lanjut ... yukkksss :)
do'a ketika turun hujan..’Aisyah radhiyallahu ’anha berkata, ”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, ”Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat" (HR. Bukhari)
Nah kalau hujannya lebat se-x, Rasulullah berdo'a: “Allahumma haawalaina wa laa ’alaina. Allahumma ’alal aakami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari [Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turunkanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan].” (HR. Bukhari)
nah, klo mendengar petir do'anya adalah “Subhanalladzi yusabbihur ro’du bi hamdihi wal mala-ikatu min khiifatih” (Mahasuci Allah yang petir dan para malaikat bertasbih dengan memuji-Nya karena rasa takut kepada-Nya).” (HR Bukhari)
    
 
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Sobat IC…perkenalkan nama saya Alif, tokoh fiksi yang Insya Allah akan menemani Sobat IC semua dalam bertadabur ayat-ayat Al Qur’an melalui kisah. Semoga bisa menumbuhkan rasa cinta kita semua kepada Allah SWT, Al Qur’an, serta Rasulullah. Semoga juga bisa menumbuhkan rasa ingin tahu kita untuk terus menyelami kedalaman samudra Qur’an yang penuh dengan berbagai hikmah. Pada akhirnya, kita akan merasakan bahwa berinteraksi dengan Al Qur’an sungguh sangat nikmat, menyenangkan, menenangkan, menentramkan………….
****

Pagi yang cerah,…dengan senyum, dengan hati yang teramat bahagia Alif ditemani abahnya pagi itu pergi ke sekolah untuk mengambil nilai hasil belajarnya selama satu semester ini. Alif begitu yakin akan memperoleh nilai bagus, dan tentunya akan membahagiakan orang tuanya. Ia selama ini merasa sudah belajar dengan maksimal, PR nya selalu dikerjakan dengan baik, nilai ulangan harian pun tak pernah di bawah 9, apalagi nilai ujian semester tadi rata-ratanya tembus angka 9. Sungguh pencapaian yang luar biasa, pikirnya usaha dan kerja kerasanya selama ini tidaklah sia-sia.

Saat yang dinanti tiba. Dari luar kelas ia mengamati wajah abah dengan raut muka yang cerah menandakan kebahagiaan tak terkira. Dibukanya raport bersampul biru, ia perhatikan nilainya satu per satu. Semua persis seperti perhitungannya.
Menjelang tidur ia buka sekali lagi, ia perhatikan dengan seksama. Kali ini, tiba-tiba ia termenung lama…tiba-tiba butiran kecil keluar dari matanya. Alif menangis…jauh di dalam nuraninya, ia berfikir bahwa selama ini ia sudah berusaha keras untuk urusan nilai pelajaran di sekolahnya dan hasilnya pun cukup memuaskan. Tapi…sudahkan engkau bekerja keras untuk raport di akhiratmu kelak Alif!!!!, begitu bisikan keras yang terulang-ulang di hatinya.
Alif teringat ayat yang dibacakan kakak pendamping ekstrakurikuler Rohis di sekolahnya, Q.S Al Insyiqaq ayat 6 – 15.

يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحاً فَمُلَاقِيهِ -٦- فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ -٧- فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَاباً يَسِيراً -٨- وَيَنقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُوراً -٩- وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاء ظَهْرِهِ -١٠- فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُوراً -١١- وَيَصْلَى سَعِيراً -١٢- إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُوراً -١٣- إِنَّهُ ظَنَّ أَن لَّن يَحُورَ -١٤- بَلَى إِنَّ رَبَّهُ كَانَ بِهِ بَصِيراً -١٥-

Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhan-mu, maka kamu akan menemui-Nya (6).** Maka adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah kanannya (7), maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah (8), dan dia akan kembali kepada keluarganya (yang sama-sama beriman) dengan gembira (9). Dan adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah belakang (10), maka dia akan berteriak, “Celakalah aku!”(11), Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka) (12). Sungguh, dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan keluarganya (yang sama-sama kafir) (13). Sesungguhnya dia mengira bahwa dia tidak akan kembali (kepada Tuhan-nya) (14). Tidak demikian, sesungguhnya Tuhan-nya selalu melihatnya (15).
**Manusia di dunia ini baik disadari atau tidak adalah dalam perjalanan kepada Tuhan-nya. Dan pasti dia akan menemui Tuhan-nya untuk menerima pembalasan-Nya dari perbuatannya yang buruk maupun yang baik.

Dalam hatinya berkecamuk….
Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhan-mu, maka kamu akan menemui-Nya….
Ah…sudahkah aku bekerja keras, mempersiapkan diri untuk pertemuan dengan Allah,..Tuhan yang lisan ini mengaku mencintaiNya, bahkan senantiasa berucap bahwa, sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah…??? Sudahkah…aku mencurahkan waktu dalam hidup sebagaimana aku mencurahkan untuk urusan duniaku…

Maka adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah kanannya , maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada keluarganya (yang sama-sama beriman) dengan gembira..

Ya Allah, akankah  kelak catatanku diberikan dari sebelah kanan. Akankah kelak aku menerimanya dengan senyum kebahagiaan sebagaimana aku mengambil raportku di sekolah, begitu suara lirih di hati Alif.  Bagaimana hisabku kelak? mudah atau ah…tak sanggup aku membayangkannya. Akankah aku kembali berkumpul dengan keluargaku, bersama orang-orang tercinta di syurga…atau mendekam sendiri dalam gelap dan panasnya neraka…na’udzubillah. Padahal berkumpul dengan teman-teman Rohis saja malas…apakah pantas berkumpul bersama orang-orang sholeh di syurga kelak…ya Allah…sungguh Engkau Maha Pengampun.

Alif tak berhenti, ia buka Tafsir Fi Zhilalil Qur’an salah satu buku kesukaannya karya Ustadz Sayyid Quth,  ia baca pelan,
Dari ‘Aisyah r.a, Rasulullah SAW bersabda, “barang siapa yang dipertanyakan di dalam hisabnya maka berarti ia akan disiksa.”

Alif semakin tak kuat menahan air matanya, ia terus berdoa sebagaimana doa yang diajarkan oleh Rasulullah. Dari ‘Aisyah r.a., ia berkata, “ aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa di dalam sebagian sholatnya.
“ Ya Allah, hisablah aku dengan hisab yang mudah”

Doa ini menutup kisah Alif kali ini. Insya Allah akan dilanjutkan di waktu berikutnya. Ikuti terus kisah si Alif ya….
Alif menutup perenungannya kali ini dengan doa :
Maha suci Allah dan segala puji bagiMu, saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, ampunilah segala kesalahan kami, kepadaMu kami bertaubat dan mohon ampun, dan kepadaMu kelak kami akan kembali ya Allah…

Tak lupa, ia sholat dan berdoa menjelang tidurnya, untuk menutup hidupnya hari ini dengan indah. Dalam hatinya ia selalu berharap kelak ia bisa benar-benar menutupnya dengan sangat indah…amin ya Allah..

Selasa, 08 November 2011

IQRA' Club-Banjarbaru : Keep Moving Forward

Praise only for my Gorgeous Allah
Please take care my heart, my mine, and my soul
Until i see U when i 'll get there


Rabu, 02 November 2011

Ghuroba Si Generasi Idaman


Adalah kisah kehidupan Ibrahim di era kejayaan seorang raja yang bernama Namrud bin Kan’an (sekitar 1943-2275 SM) , penguasa diktator dari bangsa Babylon yang menjadi tiran bagi dakwah nabi Ibrahim di tengah keluarga dan masyarakatnya.
Kegigihan dan kecerdasannya dalam menyebarkan “misi illahi” menimbulkan murka raja Namrud dan bala tentaranya. Kekuasaan dan kekuatan yang dimiliki oleh Namrud tidak menyurutkan semangat Ibrahim dalam berdakwah, walaupun Namrud selalu bersikap keras dan intoleran. Melihat proses dakwah nabi Ibrahim semakin menunjukkan hasil, Namrud mengeluarkan intruksi kontroversial, yaitu eksekusi dengan membakar Ibrahim secara hidup-hidup.
Apakah Ibrahim menjadi ciut nyali dengan ancaman ini? Apakah Ibrahim menghentikan proses dakwahnya agar selamat dari bahaya yang mengancam jiwanya? Di sinilah, kita bisa melihat ketegarannya saat menghadapi cobaan, kebulatan tekad dalam melaksanakan kewajiban dakwah kepada masyarakat untuk meng-Esakan Allah SWT membuatnya pantang untuk menyerah, dengan segala konsekuensinya ia tetap mendengungkan “kalimat tauhid”.
Keteguhan sikap yang dimiliki oleh Ibrahim ini akhirnya membuahkan hasil, Tuhan tidak membiarkan kekasihnya sendirian dalam menghadapi keganasan Namrud hambanya yang sangat dzalim. Jilatan api yang memanggang nabi Ibrahim saat itu telah perintahkan jinak tidak mampu membakar tubuhnya. (Qs. al Anbiya: 69).  Kisah pergulatan akidah antara nabi Ibrahim dengan keluarga dan masyarakat pada zamannya ini dapat kita lihat secara detail dalam al Quran melalui surat al Anbiya ayat 52 - 70.
Merujuk kepada kisah Nabi Ibrahim as dan para nabi dan rasul yang lainnya, termasuk Rasulullah Muhammad saw. Mereka hadir untuk memperbaiki kondisi ummat. Kondisi tak ber-Tuhan atau menyembah Tuhan yang salah seperti berhala-berhala yang nge-trend pada saat itu. Sama halnya dengan sifat yang berkembang di kalangan pemuda, ada semboyan “apa pun yang terjadi, yang penting teteeeeep eksis boo…”. Setiap keyakinan, setiap pola hidup, setiap konsepsi, setiap budaya selalu berkeinginan untuk terus menerus eksis, tinggal lebih lama, atau tidak akan pernah hilang.
Kekhawatiran pun timbul di kalangan generasi tua pada waktu itu. Sebut saja Raja Namrud, Fir’aun, Kafir Quraisy yang khawatir kebiasaan turun temurun menyembah berhala tidak diwarisi oleh generasi mudanya. Berkaitan dengan pewarisan nilai-nilai tersebut, maka pemuda akan menolak jika yang diwariskan itu nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai keimanan dan keislaman. Karena tidak hanya salah, namun juga bertentangan dengan logika berfikir manusia. Sebagaimana Ibrahim menolak untuk menyembah berhala buatan ayahnya. Dan sebagaimana ia menghancurkan berhala-berhala milik Raja Namrud.

Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada Bapaknya, “Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak dapat mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong sedikitpun ?” (QS. Maryam (19):42)

Ibrahim mengetahui bagaimana membuat berhala, ia juga tahu motivasi ayahnya membuat berhala semata-mata hanya motivasi ekonomi, dan Ibrahim tahu persis mengapa Namrud mengajarkan penyembahan berhala kepada kaumnya.

Pemuda Sebagai Generasi Penerus

                Setiap pemuda adalah penerus tongkat estafet peradaban. Mau dibawa kemana arah peradaban ini tergantung dari keinginan dari para pemuda untuk mengusahakannya. Tentu saja kondisi yg lebih baik merupakan cita-cita dari kita semua. Untuk mengusahakan kondisi yg lebih baik tersebut hendaknya para pemuda sudah mempersiapkan sejak kini, Utamanya adalah persiapan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Sebagaimana dalam ayat Allah yg artinya:
"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah takwa dan bertakwalah kepadaKu hai orang-orang yang berakal." (Q.S. Al-Baqarah 197)
                Kemudian perjuangan untuk melakukan perubahan tidak berhenti saja di masa Nabi Ibrahim as. Perjuangan untuk memperbaiki kondisi penyembahan kepada berhala berlanjut hingga masa Rasulullah Muhammad saw bersama para penentangnya yaitu para penyembah berhala. Pada masa itu, selain masyarakat banyak menyembah berhala, kondisi juga diperparah dengan adanya serangkaian prilaku jahil (bodoh) lainnya seperti system perbudakan (jual beli manusia), pembunuhan dengan cara mengubur hidup2 anak perempuan, khamr dan judi, dll.
                Dan sampailah pada masa sekarang, dimana kejahilan/kebodohan, penyembahan terhadap berhala, dan pengingkaran terhadap Allah SWT dapat ditutupi/dikamuflasekan atas nama trend, gaya hidup (lifestyle), ataupun kebebasan/hak masing-masing individu. Contohnya sebut saja trend konsultasi terhadap cenayang/ahli metafisik/paranormal, ramalan bintang, pakaian yg tidak menutup aurat, budaya minum minuman keras, dll.
Nah, siapa yg wajib meneruskan misi menegakkan kebenaran agama Allah SWT ini..tentu saja kita sebagai generasi selanjutnya. Dan bisa dipastikan kemungkinan besar tidak akan setenar para Nabi dan Rasul dalam memperbaiki kondisi kejahilan, atau para pahlawan pembela negeri. Namun cukuplah nama kita tercatat di hadapan Allah sebagai orang yg memperjuangkan tegaknya kebenaran Allah di muka bumi ini.

Pemuda Sebagai Generasi Pengganti

Dalam setiap perubahan yang ada di dunia ini selalu diawali dan digerakkan oleh para pemuda. Perubahan bisa menjurus ke arah kebenaran (keimanan) dan kesesatan. Islam memang memandang pemuda sebagai manusia yang penuh tanggung jawab yang harus melakukan perubahan ke arah kebenaran. Jika pada kenyataannya para pemuda tidak melakukan perubahan ke arah kebenaran, maka Allah akan mendatangkan pemuda-pemuda lainnya yang lebih baik dengan kriteria sebagai berikut : (QS. An Nisaa 4:54)
-          Allah cinta kepada mereka, mereka pun mencintai Allah
-          Bersikap lembut terhadap sesama muslim dan bersikap keras kepada orang kafir
-          Tidak takut celaan orang-orang yang mencela
Dari ayat tersebut tergambar bahwa bila para pemuda pada suatu masa tidak berlaku mencintai Allah SWT, tidak melakukan usaha perubahan kondisi menjadi lebih baik lagi, dan takut ketika ia melakukan perbaikan ia akan dicibir atau dicela oleh orang-orang yg melakukan keburukan, maka masa dari pemuda tersebut akan berakhir dalam waktu singkat. Dan Allah akan mendatangkan para pemuda baru dari generasi selanjutnya untuk mengubah kondisi menjadi lebih baik lagi.

Berikut adalah contoh para pemuda yg memiliki catatan indah di hadapan Allah SWT.

·         Kisah Ashabul Kahfi

Sikap tegas menolak paksaan dari  penguasa dzalim yang dilakukan oleh Raja Deqyanus memaksa para pemuda Ashabul Kahfi  agar bersedia mengikuti aliran kepercayaan menyembah sesembahan selain Allah SWT. Para pemuda itu menolak dan berkata tegas “Tidak!”.  Sebagaimana dalam firman Allah (artinya)
“Pada waktu mereka berdiri tegak (di hadapan raja yang dzolim) lalu mereka berkata : “Robb kami adalah Robb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyembah Ilah selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran (QS. Al Kahfi 18:14)
Para pemuda Ashabul Kahfi tersebut tidak bersedia mengikuti perintah raja yang dzolim, mereka tidak mengikuti kepercayaan untuk menyembah berhala yang dipaksakan penguasa, mereka tetap menyembah Allah Yang Mahakuasa.

Pemuda Sebagai Generasi Pembaharu

                Secara fithrah, orang-orang yang lemah akan mencari perlindungan kepada yang lebih kuat. Yang tergolong kepada orang-orang yang lemah antara lain : orang tua, wanita, dan anak-anak. Dan tentu saja kepada pemuda, yang diharapkan untuk menjadi seorang pemimpin. Untuk menjadi seorang pemimpin, pemuda harus mempunyai beberapa persyaratan sebagai berikut :

 

-       Keyakinan (Aqidah) yang Benar

        Artinya bahwa para pemuda yang diharapkan menjadi generasi pembaharu (memperbaiki generasi sebelumnya) haruslah pemuda yang menjatuhkan pilihannya kepada keyakinan (aqidah) yang benar, yaitu aqidah Islamiyyah.

“Katakanlah, sesungguhnya sholatku, ibadahku (pengabdianku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Robb semesta alam” (QS. Al An’am (6) : 162)
“Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah kamu bersedih hati, padahalkamu adalah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu benar-benar orang yang beriman (QS. Ali Imran (3) :139)
dengan aqidah (keyakinan) itulah para pemuda menjadikan titik tolak segala tingkah laku dan perbuatannya, arah perjuangannya dan pengorbanan dari resiko yang akan dihadapinya.

-       Pemikiran yang Cemerlang (wadhih)
                Selain dari keyakinan, kematangan operasionalnya pun harus dipersiapkan. Yaitu dengan pola pikir yang cemerlang, jelas berwawasan ke masa depan, terutama ukhrowi dan juga dunia. Sehingga dengan demikian dapat memilah antara pemikiran kebenaran (keimanan) dengan alam pemikiran kejahatan (kebathilan). Jadi nilai-nilai yang haq dan yang bathil jelas terlihat di hadapannya, dan ia dapat mensikapinya bukan mencapuradukkannya.
        “Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu sedangkan kamu mengetahui” (QS. Al Baqoroh (2) : 42)

“Dan  janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya” (QS. Al Isro’ (17) :36)

So, ketika budaya atau kebiasaan negatif terjadi di sekitar kita, hal yang pertama harus kita ambil adalah tidak mengikutinya. Kemudian mengusahakan bagaimana pemikiran yang cemerlang dari diri kita mampu membuat kebiasaan baru yang lebih positif.

-       Akhlaq yang terpuji

        Seorang generasi pembaharu tidak akan mampu memperbaiki keadaan jika akhlaq yang dibawanya , atau yang dilakukannya bertentangan dengan yang aqidah diyakininya. Oleh karena akhlaq merupakan modal yang cukup penting untuk mewujudkan nilai-nilai al-Haq (Islam)
        Seseorang yang sudah berinteraksi dengan nilai-nilai Islam haruslah mempunyai kepribadian yang Islami. Seperti halnya akhlaq Rosulullah saw yang merupakan contoh teladan bagi generasi muslim bahwa sistem hidup ajaran Islam yang utuh dapat diamalkan oleh umat manusia.

-       Jasad (Fisik) yang Kuat
        Selain faktor-faktor tersebut di atas, tentunya tidak akan berdiri kuat jika tidak ditopang oleh badan yang sehat, fisik yang kuat. Karena kelemahan fisik akan banyak mempengaruhi lancar tidaknya kegiatan yang dilakukan.

dari sahabat Abu Hurairah, Bersabda Rasulullah, “Mu’min yang kuat lebih dicintai Allah dari mu’min yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikan. Bersemangatlah terhadap hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa malas, dan apabila engkau ditimpa sesuatu maka katakanlah “Qodarulloh wa maa syaa’a fa’al, Telah ditakdirkan oleh Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi”. (HR. Muslim)

        Oleh karenanya Rosululloh SAW menganjurkan untuk berolah raga, yaitu olah raga berenang, berkuda (mengendari kendaraan), dan memanah (ketangkasan alat). Di samping untuk menyehatkan fisik juga untuk membiasakan tangkas terhadap alat, perkakas maupun teknologi, juga terlatih untuk mengendarai  kendaraan. Pemuda dengan segala potensi dan peranan yang diembannya membutuhkan suatu pendidikan dan pembinaan yang mengantarkan mereka kepada pemuda yang berjiwa besar, kuat dan shabar untuk merentas jalan kehidupan yang berliku ini guna menegakkan Islam. Sehingga sosok pribadi seorang muslim yang mantap itu dapat senantiasa harum dan menjadi contoh baik kepada generasi berikutnya, amal shalih yang pahalanya mengalir sepanjang masa. Insya Allah.

Peran dan Posisi Pelajar Muslim

Dengan segala kelebihan-kelebihan potensi tersebut, sebagai seorang pelajar muslim  kita memiliki peran dan posisi yang strategis yang harus dimainkan, yaitu :
1.       Iron Stock (Cadangan Masa Depan)
Suatu saat, pemuda akan mengambil peran dalam kehidupan. Mengganti generasi terdahulunya. Persiapan menjadi pribadi yg memiliki spiritual, intelektual, dan emosional yang baik merupakan harapan masa depan untuk membangun perdaban yang lebih baik lagi dibanding dengan saat ini.  Oleh karena itu persiapan yang optimal menjadi seorang remaja muslim yang baik merupakan hal yang tak bisa ditunda lagi untuk dilakukan.
2.       Agent of Change (Pelopor Perubahan)
Di tangan pemudalah berbagai perubahan terjadi, dari kemerdekaan bangsa pembangunan negara  hingga kemerosotan moral, adalah pemuda yang paling banyak memiliki peran. Pemuda dengan segenap potensinya bisa jadi peloporan perbaikan umat yang hebat tetap bisa juga menjadi penghancuran umat yang dahsyat. Kita sendiri yang akan menentukan pilihan yang positif atau negatif, baik atau buruk, taqwa atau jujur. Maka jangan heran kalau di satu sisi banyak bertebaran da’i muda tetapi di sisi lain banyak sekali pemabuk remaja. Life is a choice, so we better have a good choice for our life in this beautiful earth and after we meet Allah someday.


Tugas Pelajar Muslim

Untuk dapat berperan dalam posisi yang benar, tentu saja pelajar muslim harus mempersiapkan diri hal-hal yang harus dipersiapkan, itulah yang menjadi tugas seorang pelajar muslim :
1.     Belajar dan menguasai IPTEK
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan”. (HR. Ibnu Majah).
Hal ini merupakan konsekuensi kita seorang pelajar. Belajar di sini dalam arti seluas-luasnya, maksudnya bukan aktivitas duduk di depan meja, tenang, baca buku malam hari, atau jika perlu sampai pagi hari. Itu pengertian belajar yang sangat sempit sekali. Tujuan belajar itu adalah ilmu bertambah dan paham akan ilmu tersebut. Dengan kata lain, hakikat hidup ini adalah belajar. Mempelajari segala sesuatu yang ada di dalam dan di luar langit dan bumi ini untuk dikembangkan dan diambil mashlahat dan manfaatnya. Sebagaimana firman Allah sbb:

“Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS.Ali Imran 3 :190)

2.     Belajar dan Memahami Islam (QS. 3:18, 35:28, 58:11)
Sebagai konsekuensi kita seorang muslim.
Pada dasarnya setiap manusia yang dilahirkan adalah fithrah (Islam), maka ia adalah seorang muslim. Dan konsekuensinya dia harus paham dengan apa yang dianutnya. Dengan demikian manusia harus belajar apa itu Islam dan apa saja yang dikandungnya, yaitu dengan mempelajari Al Qur’an dan Sunnah Rasul. Karena Islam memandang, bahwa umat Islam akan mengalami kemajuan dan kesuksesan, manakala umat Islam senantiasa merujuk Al Qur’an dan Sunnah Rosul dalam setiap tingkah laku di segala aspek kehidupan. Dan sebaliknya, seorang muslim akan mengalami kemunduran dan kehancuran ketika ia telah meninggalkan Al Qur’an dan Sunnah Rosul sebagai pedoman hidupnya.
3.     Mengimani Segenap Ajaran Islam (QS. 24:51, 2:165, 3:31, 53:3-4)
Sebagai konsekuensi sebagai seorang muslim yang terpelajar
Tidak sekedar paham Islam saja, karena pahan itu tempatnya di otak dan itu semua butuh diyakini.
4.     Mengamalkan dan menda’wahkan Islam (QS. 103:1-3, 3:110, 2:44, 41:33)
Sebagai konsekuensi kefahaman dan keimanan seorang muslim yang terpelajar, Allah akan memberi balasan hanya kepada amal kita. Jadi meskipun ilmu kita setinggi langit, namun apabila tidak diamalkan akan sia-sia. Ibnu Qoyyim pernah berteori tentang psikolog kognitif, beliau mengatakan “setiap hati kita akan jumpai lintasan atau pikiran dari melihat, mendengar, meraba, dll. Lalu dari situ termemorikan di otak. Jika lintasan itu sering lewat akan menjadi gagasan. Jika gagasan kuat dalam diri kita, maka akan menjadi keyakinan. Lalu bila keyakinan kuat, akan menjadi kemauan, sehingga kita akan melakukannya menjadi suatu tindakan. Dan bila sering dilakukan, maka akan menjadi kebiasaan, jika itu berlangsung lama akan menjadi watak. Jika sudah sampai yang akhir ini, maka akan susah dihilangkan. Kemudian itu semua tidak cukup hanya untuk kita saja, sebisa mungkin untuk ditularkan atau mengajarkan atau menda’wahkan ilmu yang kita miliki ke orang-orng sekitar kita. Proses mengajarkan atau mengingatkan orang lain ini dapat dilakukian dengan berbagai cara yang kreatif dan menyenangkan pula. Sebut saja media Majalah Dinding (Mading) sekolah, teater, seni nasyid, kaligrafi dan masih banyak lagi.

So, saatnya menebarkan keindahan Islam dengan penuh kreatifitas yang tidak bertentangan dengan aturan Allah dan penuh keceriaan kepada siapa pun. Karena apa..? Karena kita bersaudara dan karena Islam adalah rahmat bagi semua. J

ALLAH Segalanya Bagiku




Banyak artis yang dulu bahagia di puncak karirnya akhirnya terhantui rasa ”gundah” karena kebahagiaan permanen yang dijanjikan oleh harta dan popularitas tak kunjung tiba. Sementara konsep ke-Tuhanan yang di ajarkan agama terdahulunya tidak mampu mengantarkan pada ketenangan batin. 
Sebut saja Cat Steven (kini Yusuf Islam) seorang penyanyi top Inggris di era 70-an hati yang serba tidak menentu, yg sebelumnya beragama nasrani ia mulai mencari jalan kedamaian. Budhisme dan falsafah Cina adalah pintu pertama yang ia ketuk. Tidak puas. Ia pun beralih ke faham komunis. Kembali tidak puas. Sebab menurutnya konsep ini tidak sesuai dengan fithrah manusia. Hingga akhirnya pada tahun 1975 ia dihadiahi Al Qur’an dari kakak kandungnya. Melalui jalan inilah hidayah Allah datang kepadanya. Dan kini ia pun menjadi salah seorang muslim yg memperjuangkan Islam di Eropa.
Nah kalo di luar negeri sana selain Cat Steven masih banyak lagi mereka yg kini jadi muslim yg taat. Sebut saja Will Smith, Cassius Clay alias Muhammad Ali, Antonio Banderas, Emma Clark, Shah Rukh Khan, dll.  Klo yg local dari Indonesia juga ada, sebut saja penyanyi Chrisye.alm, Ebiet G Ade, WS Rendra, Dian Satro, Verawati Fajrin (atlet bulutangkis), Natalie Sarah, Sandrina Malakiano, dll…
Dari mana mereka semua mengenal Allah dan agama Islam ? mereka mengenal Allah bukan melalui zat Allah tetapi lewat tanda-tanda kebesaran-Nya dan lewat ayat-ayat-Nya. Bahkan ayat-ayat Allah tersebut terdapat di dalam tubuh kita sendiri. Coba kita perhatikan firman Allah SWT berikut ini yang terdapat dalam surah Ath-Thariq:
"Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar. Yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada. Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati)."

Dalam ayat di atas, Allah SWT menyuruh manusia untuk berpikir dan meneliti, bagaimana ia diciptakan? Dan dari apa dia diciptakan? Jawabannya: Dari air! Sebagaimana kita jelaskan sebelumnya. Namun dalam kalimat berikutnya, Allah menyebutkan sifat dari air itu dengan kata ‘daafiq’. Artinya air yang bergerak dan hidup. Dan hal inilah yang telah dibuktikan oleh ilmu pengetahuan modern.  Berdasarkan sains, spermatozoon bergerak dengan menggunakan ekornya menuju sel telur untuk melakukan pembuahan. Lalu, bagaimana manusia tidak memperhatikan kebesaran Allah yg terdapat pada tubuhnya.
Dan Allah memberikan segalanya kepada manusia sebagai muara cinta-Nya. Langit dan bumi yg dapat dijadikan tempat tinggal, energy sinar matahari dan udara yang serba gratis. Lalu manusia yg Allah hanya minta untuk beribadah kepadanya masih sangat lalai dan alpha.
Jika manusia sering diberi sesuatu oleh manusia lain amak lama-kelamaan akan tumbuh cinta. Lalu bagaimana dengan Allah SWT yg tiada henti memberikan segala sesuatunya kepada kita? Sudah seharusnya kita membalas cinta Allah dengan menjadikan Allah sebagai segalanya bagi kita. Kalau kita mencintai Allah, sudah seharusnya kita membuktikan rasa cinta kita lewat beribadah kepada-Nya. Dan cinta kepada Allah SWT dalam bahasa arab dikenal dengan istilah “Ma’rifatullah”.

Makna Ma’rifatullah
Ma'rifatullah berasal dari kala ma’rifah dan Allah. Ma'rifah berarti mengetahui, mengenal. Mengenal Allah bukan melalui zat Allah tetapi mengenal-Nya lewat tanda-tanda kebesaranNya (ayat-ayatNya).

Pentingnya Ma’rifatullah
·         Seseorang yang mengenal Allah pasti akan tahu tujuan hidupnya dan tidak tertipu oleh fatamorgana dunia (QS 51:56)  .
·         Ma’rifatullah merupakan ilmu yang tertinggi yang harus difahami manusia (QS 6:122).
Hakikat ilmu adalah memberikan keyakinan kepada yang mendalaminya. Ma’rifatullah adalah ilmu yang tertinggi sebab jika difahami memberikan keyakinan mendalam. Memahami Ma’rifatullah juga akan mengeluarkan manusia dari kegelapan kebodohan kepada cahaya hidayah yang terang [6:122] .
·         Berilmu dengan ma’rifatullah sangat penting karena:
a)       Berhubungan dengan obyeknya, yaitu Allah Sang Pencipta.
b)       Berhubungan dengan manfaat yang diperoleh, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, yang dengannya akan diperoleh keberuntungan dan kemenangan.

Jalan untuk lebih mengenal Allah
Untuk lebih menumbuhkan rasa cinta kepada Allah SWT, mari kita check sebuah  ayat “Kauniyah” (ayat yg tersebar di alam raya) yg menunjukkan kebesaran Allah SWT dalam QS. An-Nahl: 10-17 yang artinya:
Dia-lah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya menyuburkan tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya), dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran. Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, dan Dia ciptakan) tanda-tanda (penujuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk. Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

Ayat kauniyah juga terdapat dalam beberapa ayat dlm A-Qur’an seperti pada :
1.       fenomena terjadinya alam (52:35),
2.       fenomena kehendak yang tinggi(67:3)
3.       fenomena kehidupan (24:45)
4.       fenomena petunjuk dan ilham (20:50)

Sedangkan di dalam A-Qur’an terdapat pula ayat “Qouliyah” seperti pada:
1.       keindahan Al-Qur' an (2:23)
2.       pemberitahuan tentang umat yang lampau [9:70]
3.       pemberitahuan tentang kejadian yang akan datang (30:1-3, 8:7, 24:55)

Untuk lebih mengenal Allah dapat juga dilakukan dengan memahami Nama-nama Baik Allah atau Asma’ul Husna. Beberapa contohnya yaitu:
1.       Allah sebagai Al-Khaliq (40:62)
2.       Allah sebagai pemberi rizqi (35:3, 11:6)
3.       Allah sebagai pemilik (2:284)

Hal-hal yang menghalangi ma’rifatullah 
1.       Kesombongan (QS 7:146; 25:21).
2.       Dzalim (QS 4:153) .
3.       Bersandar pada panca indera (QS 2:55) .
4.       Dusta (QS 7:176) .
5.       Membatalkan janji dengan Allah (QS 2:2&-27) .
6.       Berbuat kerusakan/Fasad .
7.       Lalai (QS 21:1-3) .
8.       Banyak berbuat maksiyat .
9.       Ragu-ragu (QS 6:109-110)
Semua sifat diatas merupakan bibit-bibit kekafiran kepada Allah yang harus dibersihkan dari hati. Sebab kekafiranlah yang menyebabkan Allah mengunci mati, menutup mata dan telinga manusia serta menyiksa mereka di neraka.     (QS 2:6-7)