Adalah kisah
kehidupan Ibrahim di era kejayaan seorang raja yang bernama Namrud bin Kan’an
(sekitar 1943-2275 SM) , penguasa diktator dari bangsa Babylon yang menjadi
tiran bagi dakwah nabi Ibrahim di tengah keluarga dan masyarakatnya.
Kegigihan dan
kecerdasannya dalam menyebarkan “misi illahi” menimbulkan murka raja Namrud dan
bala tentaranya. Kekuasaan dan kekuatan yang dimiliki oleh Namrud tidak
menyurutkan semangat Ibrahim dalam berdakwah, walaupun Namrud selalu bersikap
keras dan intoleran. Melihat proses dakwah nabi Ibrahim semakin menunjukkan
hasil, Namrud mengeluarkan intruksi kontroversial, yaitu eksekusi dengan
membakar Ibrahim secara hidup-hidup.
Apakah Ibrahim
menjadi ciut nyali dengan ancaman ini? Apakah Ibrahim menghentikan proses
dakwahnya agar selamat dari bahaya yang mengancam jiwanya? Di sinilah, kita
bisa melihat ketegarannya saat menghadapi cobaan, kebulatan tekad dalam
melaksanakan kewajiban dakwah kepada masyarakat untuk meng-Esakan Allah SWT
membuatnya pantang untuk menyerah, dengan segala konsekuensinya ia tetap
mendengungkan “kalimat tauhid”.
Keteguhan sikap
yang dimiliki oleh Ibrahim ini akhirnya membuahkan hasil, Tuhan tidak
membiarkan kekasihnya sendirian dalam menghadapi keganasan Namrud hambanya yang
sangat dzalim. Jilatan api yang memanggang nabi Ibrahim saat itu telah
perintahkan jinak tidak mampu membakar tubuhnya. (Qs. al Anbiya: 69). Kisah pergulatan akidah antara nabi Ibrahim
dengan keluarga dan masyarakat pada zamannya ini dapat kita lihat secara detail
dalam al Quran melalui surat al Anbiya ayat 52 - 70.
Merujuk kepada kisah Nabi Ibrahim as dan para nabi
dan rasul yang lainnya, termasuk Rasulullah Muhammad saw. Mereka hadir untuk
memperbaiki kondisi ummat. Kondisi tak ber-Tuhan atau menyembah Tuhan yang
salah seperti berhala-berhala yang nge-trend pada saat itu. Sama halnya dengan
sifat yang berkembang di kalangan pemuda, ada semboyan “apa pun yang terjadi,
yang penting teteeeeep eksis boo…”. Setiap keyakinan, setiap pola hidup, setiap
konsepsi, setiap budaya selalu berkeinginan untuk terus menerus eksis, tinggal
lebih lama, atau tidak akan pernah hilang.
Kekhawatiran pun timbul di kalangan generasi tua
pada waktu itu. Sebut saja Raja Namrud, Fir’aun, Kafir Quraisy yang khawatir
kebiasaan turun temurun menyembah berhala tidak diwarisi oleh generasi mudanya.
Berkaitan dengan pewarisan nilai-nilai tersebut, maka pemuda akan menolak jika
yang diwariskan itu nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai keimanan dan
keislaman. Karena tidak hanya salah, namun juga bertentangan dengan logika
berfikir manusia. Sebagaimana Ibrahim menolak untuk menyembah berhala buatan
ayahnya. Dan sebagaimana ia menghancurkan berhala-berhala milik Raja Namrud.
Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada Bapaknya, “Wahai
bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak dapat mendengar, tidak
melihat dan tidak dapat menolong sedikitpun ?” (QS. Maryam (19):42)
Ibrahim mengetahui bagaimana membuat berhala, ia juga tahu motivasi ayahnya
membuat berhala semata-mata hanya motivasi ekonomi, dan Ibrahim tahu persis
mengapa Namrud mengajarkan penyembahan berhala kepada kaumnya.
Pemuda Sebagai Generasi Penerus
Setiap pemuda
adalah penerus tongkat estafet peradaban. Mau dibawa kemana arah peradaban ini
tergantung dari keinginan dari para pemuda untuk mengusahakannya. Tentu saja
kondisi yg lebih baik merupakan cita-cita dari kita semua. Untuk mengusahakan kondisi
yg lebih baik tersebut hendaknya para pemuda sudah mempersiapkan sejak kini,
Utamanya adalah persiapan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Sebagaimana
dalam ayat Allah yg artinya:
"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baiknya
bekal adalah takwa dan bertakwalah kepadaKu hai orang-orang yang berakal." (Q.S.
Al-Baqarah 197)
Kemudian perjuangan
untuk melakukan perubahan tidak berhenti saja di masa Nabi Ibrahim as.
Perjuangan untuk memperbaiki kondisi penyembahan kepada berhala berlanjut
hingga masa Rasulullah Muhammad saw bersama para penentangnya yaitu para
penyembah berhala. Pada masa itu, selain masyarakat banyak menyembah berhala,
kondisi juga diperparah dengan adanya serangkaian prilaku jahil (bodoh) lainnya
seperti system perbudakan (jual beli manusia), pembunuhan dengan cara mengubur
hidup2 anak perempuan, khamr dan judi, dll.
Dan sampailah pada masa
sekarang, dimana kejahilan/kebodohan, penyembahan terhadap berhala, dan
pengingkaran terhadap Allah SWT dapat ditutupi/dikamuflasekan atas nama trend,
gaya hidup (lifestyle), ataupun kebebasan/hak masing-masing individu. Contohnya
sebut saja trend konsultasi terhadap cenayang/ahli metafisik/paranormal,
ramalan bintang, pakaian yg tidak menutup aurat, budaya minum minuman keras,
dll.
Nah, siapa yg wajib
meneruskan misi menegakkan kebenaran agama Allah SWT ini..tentu saja kita
sebagai generasi selanjutnya. Dan bisa dipastikan kemungkinan besar tidak akan
setenar para Nabi dan Rasul dalam memperbaiki kondisi kejahilan, atau para
pahlawan pembela negeri. Namun cukuplah nama kita tercatat di hadapan Allah
sebagai orang yg memperjuangkan tegaknya kebenaran Allah di muka bumi ini.
Pemuda Sebagai Generasi Pengganti
Dalam setiap perubahan yang ada di dunia ini
selalu diawali dan digerakkan oleh para pemuda. Perubahan bisa menjurus ke arah
kebenaran (keimanan) dan kesesatan. Islam memang memandang pemuda sebagai
manusia yang penuh tanggung jawab yang harus melakukan perubahan ke arah
kebenaran. Jika pada kenyataannya para pemuda tidak melakukan perubahan ke arah
kebenaran, maka Allah akan mendatangkan pemuda-pemuda lainnya yang lebih baik
dengan kriteria sebagai berikut : (QS. An Nisaa 4:54)
-
Allah cinta kepada mereka, mereka pun mencintai Allah
-
Bersikap lembut terhadap sesama muslim dan bersikap keras
kepada orang kafir
-
Tidak takut celaan orang-orang yang mencela
Dari ayat tersebut tergambar bahwa bila para
pemuda pada suatu masa tidak berlaku mencintai Allah SWT, tidak melakukan usaha
perubahan kondisi menjadi lebih baik lagi, dan takut ketika ia melakukan
perbaikan ia akan dicibir atau dicela oleh orang-orang yg melakukan keburukan,
maka masa dari pemuda tersebut akan berakhir dalam waktu singkat. Dan Allah
akan mendatangkan para pemuda baru dari generasi selanjutnya untuk mengubah
kondisi menjadi lebih baik lagi.
Berikut adalah contoh para pemuda yg memiliki
catatan indah di hadapan Allah SWT.
· Kisah Ashabul Kahfi
Sikap tegas menolak paksaan dari
penguasa dzalim yang dilakukan oleh Raja Deqyanus memaksa para pemuda Ashabul
Kahfi agar bersedia mengikuti aliran
kepercayaan menyembah sesembahan selain Allah SWT. Para pemuda itu menolak dan
berkata tegas “Tidak!”. Sebagaimana
dalam firman Allah (artinya)
“Pada waktu mereka
berdiri tegak (di hadapan raja yang dzolim) lalu mereka berkata : “Robb kami
adalah Robb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyembah Ilah selain Dia,
sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh
dari kebenaran (QS. Al Kahfi 18:14)
Para pemuda Ashabul Kahfi
tersebut tidak bersedia mengikuti perintah raja yang dzolim, mereka tidak
mengikuti kepercayaan untuk menyembah berhala yang dipaksakan penguasa, mereka
tetap menyembah Allah Yang Mahakuasa.
Pemuda Sebagai Generasi Pembaharu
Secara
fithrah, orang-orang yang lemah akan mencari perlindungan kepada yang lebih
kuat. Yang tergolong kepada orang-orang yang lemah antara lain : orang tua,
wanita, dan anak-anak. Dan tentu saja kepada pemuda, yang diharapkan untuk
menjadi seorang pemimpin. Untuk menjadi seorang pemimpin, pemuda harus
mempunyai beberapa persyaratan sebagai berikut :
- Keyakinan (Aqidah) yang Benar
Artinya bahwa para pemuda yang
diharapkan menjadi generasi pembaharu (memperbaiki generasi sebelumnya)
haruslah pemuda yang menjatuhkan pilihannya kepada keyakinan (aqidah) yang
benar, yaitu aqidah Islamiyyah.
“Katakanlah, sesungguhnya
sholatku, ibadahku (pengabdianku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Robb
semesta alam” (QS. Al An’am (6) : 162)
“Janganlah kamu bersikap lemah
dan janganlah kamu bersedih hati, padahalkamu adalah orang-orang yang paling
tinggi (derajatnya), jika kamu benar-benar orang yang beriman (QS. Ali Imran (3) :139)
dengan aqidah (keyakinan)
itulah para pemuda menjadikan titik tolak segala tingkah laku dan perbuatannya,
arah perjuangannya dan pengorbanan dari resiko yang akan dihadapinya.
- Pemikiran yang Cemerlang (wadhih)
Selain
dari keyakinan, kematangan operasionalnya pun harus dipersiapkan. Yaitu dengan
pola pikir yang cemerlang, jelas berwawasan ke masa depan, terutama ukhrowi dan
juga dunia. Sehingga dengan demikian dapat memilah antara pemikiran kebenaran
(keimanan) dengan alam pemikiran kejahatan (kebathilan). Jadi nilai-nilai yang
haq dan yang bathil jelas terlihat di hadapannya, dan ia dapat mensikapinya
bukan mencapuradukkannya.
“Dan
janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu
sembunyikan yang haq itu sedangkan kamu mengetahui” (QS. Al Baqoroh (2) : 42)
“Dan janganlah kamu mengikuti apa
yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, sesungguhnya pendengaran,
penglihatan, dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya” (QS. Al Isro’ (17) :36)
So, ketika budaya atau
kebiasaan negatif terjadi di sekitar kita, hal yang pertama harus kita ambil
adalah tidak mengikutinya. Kemudian mengusahakan bagaimana pemikiran yang
cemerlang dari diri kita mampu membuat kebiasaan baru yang lebih positif.
- Akhlaq yang terpuji
Seorang generasi pembaharu
tidak akan mampu memperbaiki keadaan jika akhlaq yang dibawanya , atau yang dilakukannya
bertentangan dengan yang aqidah diyakininya. Oleh karena akhlaq merupakan modal
yang cukup penting untuk mewujudkan nilai-nilai al-Haq (Islam)
Seseorang yang sudah
berinteraksi dengan nilai-nilai Islam haruslah mempunyai kepribadian yang
Islami. Seperti halnya akhlaq Rosulullah saw yang merupakan contoh teladan bagi
generasi muslim bahwa sistem hidup ajaran Islam yang utuh dapat diamalkan oleh
umat manusia.
- Jasad (Fisik) yang Kuat
Selain faktor-faktor tersebut
di atas, tentunya tidak akan berdiri kuat jika tidak ditopang oleh badan yang
sehat, fisik yang kuat. Karena kelemahan fisik akan banyak mempengaruhi lancar
tidaknya kegiatan yang dilakukan.
dari sahabat Abu Hurairah, Bersabda Rasulullah, “Mu’min yang kuat
lebih dicintai Allah dari mu’min yang lemah, dan masing-masing memiliki
kebaikan. Bersemangatlah terhadap hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mohonlah
pertolongan kepada Allah dan jangan merasa malas, dan apabila engkau ditimpa
sesuatu maka katakanlah “Qodarulloh wa maa syaa’a fa’al, Telah ditakdirkan oleh
Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi”. (HR. Muslim)
Oleh karenanya Rosululloh SAW
menganjurkan untuk berolah raga, yaitu olah raga berenang, berkuda (mengendari
kendaraan), dan memanah (ketangkasan alat). Di samping untuk menyehatkan fisik
juga untuk membiasakan tangkas terhadap alat, perkakas maupun teknologi, juga
terlatih untuk mengendarai kendaraan. Pemuda
dengan segala potensi dan peranan yang diembannya membutuhkan suatu pendidikan
dan pembinaan yang mengantarkan mereka kepada pemuda yang berjiwa besar, kuat
dan shabar untuk merentas jalan kehidupan yang berliku ini guna menegakkan
Islam. Sehingga sosok pribadi seorang muslim yang mantap itu dapat senantiasa
harum dan menjadi contoh baik kepada generasi berikutnya, amal shalih yang
pahalanya mengalir sepanjang masa. Insya Allah.
Peran dan Posisi Pelajar Muslim
Dengan segala kelebihan-kelebihan potensi
tersebut, sebagai seorang pelajar muslim kita memiliki peran dan posisi yang strategis
yang harus dimainkan, yaitu :
1. Iron Stock (Cadangan Masa Depan)
Suatu saat, pemuda akan mengambil peran dalam
kehidupan. Mengganti generasi terdahulunya. Persiapan menjadi pribadi yg
memiliki spiritual, intelektual, dan emosional yang baik merupakan harapan masa
depan untuk membangun perdaban yang lebih baik lagi dibanding dengan saat
ini. Oleh karena itu persiapan yang
optimal menjadi seorang remaja muslim yang baik merupakan hal yang tak bisa
ditunda lagi untuk dilakukan.
2. Agent of Change (Pelopor Perubahan)
Di tangan pemudalah berbagai perubahan terjadi, dari kemerdekaan bangsa
pembangunan negara hingga kemerosotan
moral, adalah pemuda yang paling banyak memiliki peran. Pemuda dengan segenap
potensinya bisa jadi peloporan perbaikan umat yang hebat tetap bisa juga
menjadi penghancuran umat yang dahsyat. Kita sendiri yang akan menentukan
pilihan yang positif atau negatif, baik atau buruk, taqwa atau jujur. Maka
jangan heran kalau di satu sisi banyak bertebaran da’i muda tetapi di sisi lain
banyak sekali pemabuk remaja. Life is a
choice, so we better have a good choice for our life in this beautiful earth
and after we meet Allah someday.
Tugas Pelajar Muslim
Untuk dapat berperan dalam posisi yang benar,
tentu saja pelajar muslim harus mempersiapkan diri hal-hal yang harus
dipersiapkan, itulah yang menjadi tugas seorang pelajar muslim :
1. Belajar
dan menguasai IPTEK
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan”. (HR. Ibnu Majah).
Hal ini
merupakan konsekuensi kita seorang pelajar. Belajar di sini dalam arti
seluas-luasnya, maksudnya bukan aktivitas duduk di depan meja, tenang, baca
buku malam hari, atau jika perlu sampai pagi hari. Itu pengertian belajar yang sangat
sempit sekali. Tujuan belajar itu adalah ilmu bertambah dan paham akan ilmu
tersebut. Dengan kata lain, hakikat hidup ini adalah belajar. Mempelajari
segala sesuatu yang ada di dalam dan di luar langit dan bumi ini untuk
dikembangkan dan diambil mashlahat dan manfaatnya. Sebagaimana firman Allah
sbb:
“Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya
siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS.Ali Imran 3 :190)
2. Belajar
dan Memahami Islam (QS. 3:18, 35:28, 58:11)
Sebagai
konsekuensi kita seorang muslim.
Pada
dasarnya setiap manusia yang dilahirkan adalah fithrah (Islam), maka ia adalah
seorang muslim. Dan konsekuensinya dia harus paham dengan apa yang dianutnya.
Dengan demikian manusia harus belajar apa itu Islam dan apa saja yang
dikandungnya, yaitu dengan mempelajari Al Qur’an dan Sunnah Rasul. Karena Islam
memandang, bahwa umat Islam akan mengalami kemajuan dan kesuksesan, manakala
umat Islam senantiasa merujuk Al Qur’an dan Sunnah Rosul dalam setiap tingkah
laku di segala aspek kehidupan. Dan sebaliknya, seorang muslim akan mengalami
kemunduran dan kehancuran ketika ia telah meninggalkan Al Qur’an dan Sunnah
Rosul sebagai pedoman hidupnya.
3. Mengimani
Segenap Ajaran Islam (QS. 24:51, 2:165, 3:31, 53:3-4)
Sebagai
konsekuensi sebagai seorang muslim yang terpelajar
Tidak
sekedar paham Islam saja, karena pahan itu tempatnya di otak dan itu semua
butuh diyakini.
4. Mengamalkan
dan menda’wahkan Islam (QS. 103:1-3, 3:110, 2:44, 41:33)
Sebagai
konsekuensi kefahaman dan keimanan seorang muslim yang terpelajar, Allah akan memberi
balasan hanya kepada amal kita. Jadi meskipun ilmu kita setinggi langit, namun apabila
tidak diamalkan akan sia-sia. Ibnu Qoyyim pernah berteori tentang psikolog
kognitif, beliau mengatakan “setiap hati kita akan jumpai lintasan atau pikiran
dari melihat, mendengar, meraba, dll. Lalu dari situ termemorikan di otak. Jika
lintasan itu sering lewat akan menjadi gagasan. Jika gagasan kuat dalam diri
kita, maka akan menjadi keyakinan. Lalu bila keyakinan kuat, akan menjadi
kemauan, sehingga kita akan melakukannya menjadi suatu tindakan. Dan bila
sering dilakukan, maka akan menjadi kebiasaan, jika itu berlangsung lama akan
menjadi watak. Jika sudah sampai yang akhir ini, maka akan susah dihilangkan.
Kemudian itu semua tidak cukup hanya untuk kita saja, sebisa mungkin untuk
ditularkan atau mengajarkan atau menda’wahkan ilmu yang kita miliki ke
orang-orng sekitar kita. Proses mengajarkan atau mengingatkan orang lain ini
dapat dilakukian dengan berbagai cara yang kreatif dan menyenangkan pula. Sebut
saja media Majalah Dinding (Mading) sekolah, teater, seni nasyid, kaligrafi dan
masih banyak lagi.
So, saatnya menebarkan keindahan Islam dengan
penuh kreatifitas yang tidak bertentangan dengan aturan Allah dan penuh
keceriaan kepada siapa pun. Karena apa..? Karena kita bersaudara dan karena
Islam adalah rahmat bagi semua. J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar