Rabu, 02 November 2011

Ghuroba Si Generasi Idaman


Adalah kisah kehidupan Ibrahim di era kejayaan seorang raja yang bernama Namrud bin Kan’an (sekitar 1943-2275 SM) , penguasa diktator dari bangsa Babylon yang menjadi tiran bagi dakwah nabi Ibrahim di tengah keluarga dan masyarakatnya.
Kegigihan dan kecerdasannya dalam menyebarkan “misi illahi” menimbulkan murka raja Namrud dan bala tentaranya. Kekuasaan dan kekuatan yang dimiliki oleh Namrud tidak menyurutkan semangat Ibrahim dalam berdakwah, walaupun Namrud selalu bersikap keras dan intoleran. Melihat proses dakwah nabi Ibrahim semakin menunjukkan hasil, Namrud mengeluarkan intruksi kontroversial, yaitu eksekusi dengan membakar Ibrahim secara hidup-hidup.
Apakah Ibrahim menjadi ciut nyali dengan ancaman ini? Apakah Ibrahim menghentikan proses dakwahnya agar selamat dari bahaya yang mengancam jiwanya? Di sinilah, kita bisa melihat ketegarannya saat menghadapi cobaan, kebulatan tekad dalam melaksanakan kewajiban dakwah kepada masyarakat untuk meng-Esakan Allah SWT membuatnya pantang untuk menyerah, dengan segala konsekuensinya ia tetap mendengungkan “kalimat tauhid”.
Keteguhan sikap yang dimiliki oleh Ibrahim ini akhirnya membuahkan hasil, Tuhan tidak membiarkan kekasihnya sendirian dalam menghadapi keganasan Namrud hambanya yang sangat dzalim. Jilatan api yang memanggang nabi Ibrahim saat itu telah perintahkan jinak tidak mampu membakar tubuhnya. (Qs. al Anbiya: 69).  Kisah pergulatan akidah antara nabi Ibrahim dengan keluarga dan masyarakat pada zamannya ini dapat kita lihat secara detail dalam al Quran melalui surat al Anbiya ayat 52 - 70.
Merujuk kepada kisah Nabi Ibrahim as dan para nabi dan rasul yang lainnya, termasuk Rasulullah Muhammad saw. Mereka hadir untuk memperbaiki kondisi ummat. Kondisi tak ber-Tuhan atau menyembah Tuhan yang salah seperti berhala-berhala yang nge-trend pada saat itu. Sama halnya dengan sifat yang berkembang di kalangan pemuda, ada semboyan “apa pun yang terjadi, yang penting teteeeeep eksis boo…”. Setiap keyakinan, setiap pola hidup, setiap konsepsi, setiap budaya selalu berkeinginan untuk terus menerus eksis, tinggal lebih lama, atau tidak akan pernah hilang.
Kekhawatiran pun timbul di kalangan generasi tua pada waktu itu. Sebut saja Raja Namrud, Fir’aun, Kafir Quraisy yang khawatir kebiasaan turun temurun menyembah berhala tidak diwarisi oleh generasi mudanya. Berkaitan dengan pewarisan nilai-nilai tersebut, maka pemuda akan menolak jika yang diwariskan itu nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai keimanan dan keislaman. Karena tidak hanya salah, namun juga bertentangan dengan logika berfikir manusia. Sebagaimana Ibrahim menolak untuk menyembah berhala buatan ayahnya. Dan sebagaimana ia menghancurkan berhala-berhala milik Raja Namrud.

Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada Bapaknya, “Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak dapat mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong sedikitpun ?” (QS. Maryam (19):42)

Ibrahim mengetahui bagaimana membuat berhala, ia juga tahu motivasi ayahnya membuat berhala semata-mata hanya motivasi ekonomi, dan Ibrahim tahu persis mengapa Namrud mengajarkan penyembahan berhala kepada kaumnya.

Pemuda Sebagai Generasi Penerus

                Setiap pemuda adalah penerus tongkat estafet peradaban. Mau dibawa kemana arah peradaban ini tergantung dari keinginan dari para pemuda untuk mengusahakannya. Tentu saja kondisi yg lebih baik merupakan cita-cita dari kita semua. Untuk mengusahakan kondisi yg lebih baik tersebut hendaknya para pemuda sudah mempersiapkan sejak kini, Utamanya adalah persiapan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Sebagaimana dalam ayat Allah yg artinya:
"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah takwa dan bertakwalah kepadaKu hai orang-orang yang berakal." (Q.S. Al-Baqarah 197)
                Kemudian perjuangan untuk melakukan perubahan tidak berhenti saja di masa Nabi Ibrahim as. Perjuangan untuk memperbaiki kondisi penyembahan kepada berhala berlanjut hingga masa Rasulullah Muhammad saw bersama para penentangnya yaitu para penyembah berhala. Pada masa itu, selain masyarakat banyak menyembah berhala, kondisi juga diperparah dengan adanya serangkaian prilaku jahil (bodoh) lainnya seperti system perbudakan (jual beli manusia), pembunuhan dengan cara mengubur hidup2 anak perempuan, khamr dan judi, dll.
                Dan sampailah pada masa sekarang, dimana kejahilan/kebodohan, penyembahan terhadap berhala, dan pengingkaran terhadap Allah SWT dapat ditutupi/dikamuflasekan atas nama trend, gaya hidup (lifestyle), ataupun kebebasan/hak masing-masing individu. Contohnya sebut saja trend konsultasi terhadap cenayang/ahli metafisik/paranormal, ramalan bintang, pakaian yg tidak menutup aurat, budaya minum minuman keras, dll.
Nah, siapa yg wajib meneruskan misi menegakkan kebenaran agama Allah SWT ini..tentu saja kita sebagai generasi selanjutnya. Dan bisa dipastikan kemungkinan besar tidak akan setenar para Nabi dan Rasul dalam memperbaiki kondisi kejahilan, atau para pahlawan pembela negeri. Namun cukuplah nama kita tercatat di hadapan Allah sebagai orang yg memperjuangkan tegaknya kebenaran Allah di muka bumi ini.

Pemuda Sebagai Generasi Pengganti

Dalam setiap perubahan yang ada di dunia ini selalu diawali dan digerakkan oleh para pemuda. Perubahan bisa menjurus ke arah kebenaran (keimanan) dan kesesatan. Islam memang memandang pemuda sebagai manusia yang penuh tanggung jawab yang harus melakukan perubahan ke arah kebenaran. Jika pada kenyataannya para pemuda tidak melakukan perubahan ke arah kebenaran, maka Allah akan mendatangkan pemuda-pemuda lainnya yang lebih baik dengan kriteria sebagai berikut : (QS. An Nisaa 4:54)
-          Allah cinta kepada mereka, mereka pun mencintai Allah
-          Bersikap lembut terhadap sesama muslim dan bersikap keras kepada orang kafir
-          Tidak takut celaan orang-orang yang mencela
Dari ayat tersebut tergambar bahwa bila para pemuda pada suatu masa tidak berlaku mencintai Allah SWT, tidak melakukan usaha perubahan kondisi menjadi lebih baik lagi, dan takut ketika ia melakukan perbaikan ia akan dicibir atau dicela oleh orang-orang yg melakukan keburukan, maka masa dari pemuda tersebut akan berakhir dalam waktu singkat. Dan Allah akan mendatangkan para pemuda baru dari generasi selanjutnya untuk mengubah kondisi menjadi lebih baik lagi.

Berikut adalah contoh para pemuda yg memiliki catatan indah di hadapan Allah SWT.

·         Kisah Ashabul Kahfi

Sikap tegas menolak paksaan dari  penguasa dzalim yang dilakukan oleh Raja Deqyanus memaksa para pemuda Ashabul Kahfi  agar bersedia mengikuti aliran kepercayaan menyembah sesembahan selain Allah SWT. Para pemuda itu menolak dan berkata tegas “Tidak!”.  Sebagaimana dalam firman Allah (artinya)
“Pada waktu mereka berdiri tegak (di hadapan raja yang dzolim) lalu mereka berkata : “Robb kami adalah Robb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyembah Ilah selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran (QS. Al Kahfi 18:14)
Para pemuda Ashabul Kahfi tersebut tidak bersedia mengikuti perintah raja yang dzolim, mereka tidak mengikuti kepercayaan untuk menyembah berhala yang dipaksakan penguasa, mereka tetap menyembah Allah Yang Mahakuasa.

Pemuda Sebagai Generasi Pembaharu

                Secara fithrah, orang-orang yang lemah akan mencari perlindungan kepada yang lebih kuat. Yang tergolong kepada orang-orang yang lemah antara lain : orang tua, wanita, dan anak-anak. Dan tentu saja kepada pemuda, yang diharapkan untuk menjadi seorang pemimpin. Untuk menjadi seorang pemimpin, pemuda harus mempunyai beberapa persyaratan sebagai berikut :

 

-       Keyakinan (Aqidah) yang Benar

        Artinya bahwa para pemuda yang diharapkan menjadi generasi pembaharu (memperbaiki generasi sebelumnya) haruslah pemuda yang menjatuhkan pilihannya kepada keyakinan (aqidah) yang benar, yaitu aqidah Islamiyyah.

“Katakanlah, sesungguhnya sholatku, ibadahku (pengabdianku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Robb semesta alam” (QS. Al An’am (6) : 162)
“Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah kamu bersedih hati, padahalkamu adalah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu benar-benar orang yang beriman (QS. Ali Imran (3) :139)
dengan aqidah (keyakinan) itulah para pemuda menjadikan titik tolak segala tingkah laku dan perbuatannya, arah perjuangannya dan pengorbanan dari resiko yang akan dihadapinya.

-       Pemikiran yang Cemerlang (wadhih)
                Selain dari keyakinan, kematangan operasionalnya pun harus dipersiapkan. Yaitu dengan pola pikir yang cemerlang, jelas berwawasan ke masa depan, terutama ukhrowi dan juga dunia. Sehingga dengan demikian dapat memilah antara pemikiran kebenaran (keimanan) dengan alam pemikiran kejahatan (kebathilan). Jadi nilai-nilai yang haq dan yang bathil jelas terlihat di hadapannya, dan ia dapat mensikapinya bukan mencapuradukkannya.
        “Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu sedangkan kamu mengetahui” (QS. Al Baqoroh (2) : 42)

“Dan  janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya” (QS. Al Isro’ (17) :36)

So, ketika budaya atau kebiasaan negatif terjadi di sekitar kita, hal yang pertama harus kita ambil adalah tidak mengikutinya. Kemudian mengusahakan bagaimana pemikiran yang cemerlang dari diri kita mampu membuat kebiasaan baru yang lebih positif.

-       Akhlaq yang terpuji

        Seorang generasi pembaharu tidak akan mampu memperbaiki keadaan jika akhlaq yang dibawanya , atau yang dilakukannya bertentangan dengan yang aqidah diyakininya. Oleh karena akhlaq merupakan modal yang cukup penting untuk mewujudkan nilai-nilai al-Haq (Islam)
        Seseorang yang sudah berinteraksi dengan nilai-nilai Islam haruslah mempunyai kepribadian yang Islami. Seperti halnya akhlaq Rosulullah saw yang merupakan contoh teladan bagi generasi muslim bahwa sistem hidup ajaran Islam yang utuh dapat diamalkan oleh umat manusia.

-       Jasad (Fisik) yang Kuat
        Selain faktor-faktor tersebut di atas, tentunya tidak akan berdiri kuat jika tidak ditopang oleh badan yang sehat, fisik yang kuat. Karena kelemahan fisik akan banyak mempengaruhi lancar tidaknya kegiatan yang dilakukan.

dari sahabat Abu Hurairah, Bersabda Rasulullah, “Mu’min yang kuat lebih dicintai Allah dari mu’min yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikan. Bersemangatlah terhadap hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa malas, dan apabila engkau ditimpa sesuatu maka katakanlah “Qodarulloh wa maa syaa’a fa’al, Telah ditakdirkan oleh Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi”. (HR. Muslim)

        Oleh karenanya Rosululloh SAW menganjurkan untuk berolah raga, yaitu olah raga berenang, berkuda (mengendari kendaraan), dan memanah (ketangkasan alat). Di samping untuk menyehatkan fisik juga untuk membiasakan tangkas terhadap alat, perkakas maupun teknologi, juga terlatih untuk mengendarai  kendaraan. Pemuda dengan segala potensi dan peranan yang diembannya membutuhkan suatu pendidikan dan pembinaan yang mengantarkan mereka kepada pemuda yang berjiwa besar, kuat dan shabar untuk merentas jalan kehidupan yang berliku ini guna menegakkan Islam. Sehingga sosok pribadi seorang muslim yang mantap itu dapat senantiasa harum dan menjadi contoh baik kepada generasi berikutnya, amal shalih yang pahalanya mengalir sepanjang masa. Insya Allah.

Peran dan Posisi Pelajar Muslim

Dengan segala kelebihan-kelebihan potensi tersebut, sebagai seorang pelajar muslim  kita memiliki peran dan posisi yang strategis yang harus dimainkan, yaitu :
1.       Iron Stock (Cadangan Masa Depan)
Suatu saat, pemuda akan mengambil peran dalam kehidupan. Mengganti generasi terdahulunya. Persiapan menjadi pribadi yg memiliki spiritual, intelektual, dan emosional yang baik merupakan harapan masa depan untuk membangun perdaban yang lebih baik lagi dibanding dengan saat ini.  Oleh karena itu persiapan yang optimal menjadi seorang remaja muslim yang baik merupakan hal yang tak bisa ditunda lagi untuk dilakukan.
2.       Agent of Change (Pelopor Perubahan)
Di tangan pemudalah berbagai perubahan terjadi, dari kemerdekaan bangsa pembangunan negara  hingga kemerosotan moral, adalah pemuda yang paling banyak memiliki peran. Pemuda dengan segenap potensinya bisa jadi peloporan perbaikan umat yang hebat tetap bisa juga menjadi penghancuran umat yang dahsyat. Kita sendiri yang akan menentukan pilihan yang positif atau negatif, baik atau buruk, taqwa atau jujur. Maka jangan heran kalau di satu sisi banyak bertebaran da’i muda tetapi di sisi lain banyak sekali pemabuk remaja. Life is a choice, so we better have a good choice for our life in this beautiful earth and after we meet Allah someday.


Tugas Pelajar Muslim

Untuk dapat berperan dalam posisi yang benar, tentu saja pelajar muslim harus mempersiapkan diri hal-hal yang harus dipersiapkan, itulah yang menjadi tugas seorang pelajar muslim :
1.     Belajar dan menguasai IPTEK
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan”. (HR. Ibnu Majah).
Hal ini merupakan konsekuensi kita seorang pelajar. Belajar di sini dalam arti seluas-luasnya, maksudnya bukan aktivitas duduk di depan meja, tenang, baca buku malam hari, atau jika perlu sampai pagi hari. Itu pengertian belajar yang sangat sempit sekali. Tujuan belajar itu adalah ilmu bertambah dan paham akan ilmu tersebut. Dengan kata lain, hakikat hidup ini adalah belajar. Mempelajari segala sesuatu yang ada di dalam dan di luar langit dan bumi ini untuk dikembangkan dan diambil mashlahat dan manfaatnya. Sebagaimana firman Allah sbb:

“Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS.Ali Imran 3 :190)

2.     Belajar dan Memahami Islam (QS. 3:18, 35:28, 58:11)
Sebagai konsekuensi kita seorang muslim.
Pada dasarnya setiap manusia yang dilahirkan adalah fithrah (Islam), maka ia adalah seorang muslim. Dan konsekuensinya dia harus paham dengan apa yang dianutnya. Dengan demikian manusia harus belajar apa itu Islam dan apa saja yang dikandungnya, yaitu dengan mempelajari Al Qur’an dan Sunnah Rasul. Karena Islam memandang, bahwa umat Islam akan mengalami kemajuan dan kesuksesan, manakala umat Islam senantiasa merujuk Al Qur’an dan Sunnah Rosul dalam setiap tingkah laku di segala aspek kehidupan. Dan sebaliknya, seorang muslim akan mengalami kemunduran dan kehancuran ketika ia telah meninggalkan Al Qur’an dan Sunnah Rosul sebagai pedoman hidupnya.
3.     Mengimani Segenap Ajaran Islam (QS. 24:51, 2:165, 3:31, 53:3-4)
Sebagai konsekuensi sebagai seorang muslim yang terpelajar
Tidak sekedar paham Islam saja, karena pahan itu tempatnya di otak dan itu semua butuh diyakini.
4.     Mengamalkan dan menda’wahkan Islam (QS. 103:1-3, 3:110, 2:44, 41:33)
Sebagai konsekuensi kefahaman dan keimanan seorang muslim yang terpelajar, Allah akan memberi balasan hanya kepada amal kita. Jadi meskipun ilmu kita setinggi langit, namun apabila tidak diamalkan akan sia-sia. Ibnu Qoyyim pernah berteori tentang psikolog kognitif, beliau mengatakan “setiap hati kita akan jumpai lintasan atau pikiran dari melihat, mendengar, meraba, dll. Lalu dari situ termemorikan di otak. Jika lintasan itu sering lewat akan menjadi gagasan. Jika gagasan kuat dalam diri kita, maka akan menjadi keyakinan. Lalu bila keyakinan kuat, akan menjadi kemauan, sehingga kita akan melakukannya menjadi suatu tindakan. Dan bila sering dilakukan, maka akan menjadi kebiasaan, jika itu berlangsung lama akan menjadi watak. Jika sudah sampai yang akhir ini, maka akan susah dihilangkan. Kemudian itu semua tidak cukup hanya untuk kita saja, sebisa mungkin untuk ditularkan atau mengajarkan atau menda’wahkan ilmu yang kita miliki ke orang-orng sekitar kita. Proses mengajarkan atau mengingatkan orang lain ini dapat dilakukian dengan berbagai cara yang kreatif dan menyenangkan pula. Sebut saja media Majalah Dinding (Mading) sekolah, teater, seni nasyid, kaligrafi dan masih banyak lagi.

So, saatnya menebarkan keindahan Islam dengan penuh kreatifitas yang tidak bertentangan dengan aturan Allah dan penuh keceriaan kepada siapa pun. Karena apa..? Karena kita bersaudara dan karena Islam adalah rahmat bagi semua. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar