Dalam setiap perubahan yang ada di dunia ini selalu diawali dan digerakkan
oleh para pemuda. Perubahan bisa menjurus ke arah kebenaran (keimanan) dan
kesesatan. Islam memang memandang pemuda sebagai manusia yang penuh tanggung
jawab yang harus melakukan perubahan ke arah kebenaran. Jika pada kenyataannya
para pemuda tidak melakukan perubahan ke arah kebenaran, maka Allah SWT akan
mendatangkan pemuda-pemuda lainnya yang lebih baik dengan kriteria sebagai
berikut : (QS. An Nisaa 4:54)
-
Allah cinta kepada mereka,
mereka pun mencintai Allah
-
Bersikap lembut terhadap sesama
muslim dan bersikap keras kepada orang kafir
-
Tidak takut celaan orang-orang
yang mencela
Sepanjang sejarah peradaban, seiap perubahan di
usung dan diperjuangkan oleh generasi yg mayoritas adalah seorang pemuda. Ambil
contoh proklamasi kemerdekaan RI dimana para pemuda (Wikana, Darwis, Sukani,
Sayuti Melik, menculik Ir Soekarno dan Drs Moh. Hatta untuk mencegah kedua
tokoh tersebut dari usaha pembunuhan dan penyanderaan yg akan dilakukan Jepang,
serta mendesak mereka segera memproklamirkan kemerdekaan RI. Kemudian berlanjut
dengan perjuangan-perjuangan lain di Indonesia yg berusaha mengakhiri penindaan
penjajah Belanda baik melalui organisasi yg di bentuknya maupun melalui
perjuangan fisik yg heroik. Lagi-lagi pemuda sebagai ujung terdepan perjuangan
tersebut.
Mengapa
demikian…? Karena dalam diri pemuda mempunyai karakteristik kritis, dinamis,
reaktif, kreatif dan inovatif. Selain itu juga pemuda mempunyai jiwa yang
relatif masih bersih dari polusi sekitar, karena mereka masih dalam proses
memilih dan memilah hati dirinya untuk cita-cita masa depannya. Hal tersebut
semua berpotensi ke arah kebenaran (keimanan) maupun ke arah kejahatan (kebathilan),
tergantung apa dan bagaimana sikap dia terhadap input yang masuk padanya, serta
di lingkungan mana dia dominan. Berikut adalah pengertian singkat dari karakteristik yg dimiliki oleh
pemuda:
1. Kritis
Para
pemuda tidak mudah begitu saja menerima apa yang telah ada secara rutin terjadi
di sekelilingnya. Hal itu bisa terlihat dengan sikap kritisnya terhadap apa
yang terbiasa dilakukan generasi sebelumnya. Baik dengan cara mempertanyakan
mengapa dan bagaimana hal itu terjadi
ataupun dengan cara mengabaikannya sama sekali karena merasa tidak
memerlukannya.
Dan
juga kecenderungan mereka terhadap sejarah, ada yang mensikapi sebagai berikut
: bahan pengetahuan saja (sekedar memuaskan rasa ingin tahunya), mengambil
pelajaran supaya tidak terulang (sejarah yang buruk) dan merubah/memperbaiki
sejarah.
2. Dinamis
Pemuda mempunyai sikap tidak mau/betah
terhadap kestatisan, kejumudan maupun kemapanan. Pemuda lebih suka terhadap
perubahan, baik itu perbaikan maupun penghancuran. Mereka senantiasa ingin bergerak,
mengalir laksana air tidak tinggal diam karena ditunjang oleh emosi dan
semangat dan bergelora.
3. Reaktif
Seperti
halnya teori aksi dan reaksi, para pemudalah yang mempunyai kepedilian (reaksi)
terhadap aksi yang terjadi pada lingkungan sekitarnya baik dalam arti positif
maupun dengan pengertian negatif.
Terhadap hal-hal yang bersifat ajakan, cegahan, pelanggaran maupun
dukungan, bahkan sebagai ujung tombak kepedulian. Ini terjadi karena secara fisik
masih kuat dan tingkat emosinya tinggi.
4. Kreatif dan inovatif
Disamping
itu pemuda senang pada sesuatu yang baru baik dari cara maupun isi, yang haq
maupun yang bathil, tergantung kecenderungan dirinya ke arah mana ia berjalan.
Mereka kreatif untuk mewujudkan konsep/kaidah-kaidah yang diyakininya, dan juga
daya inovasinya tinggi untuk memperbaiki kreasi-kreasi yang telah ada
sebelumnya. Mereka tidak kering dengan ide-ide segar untuk mewujudkan
konsep/kaidah yang diyakininya tersebut, baik itu bersifat positif maupun
negatif.
Karena
pemuda masih dalam proses memilah dan memilih mana yang baik untuk dirinya,
maka mereka terkadang plin-plan, kemana angin bertiup mereka ikut, (contoh :
trend). Daya seleksi mereka tergantung dari lingkungan yang berada di
sekitarnya, wawasan/pengetahuan yang dipunyainya, maupun kecenderungan moral
yang biasa dengannya. Akan tetapi ketika telah menjatuhkan pilihannya mereka
akan tegas mempertahankan keyakinannya. Mereka termasuk tahan banting terhadap
resiko yang dihadapi; ketika sudah memilah dan memilih apa yang ia yakini dan
harus diperjuangkannya.
Kondisi dan Lingkungan Pemuda
Kalau dulu pada zaman penjajahan, kondisi lingkungan
membuat para pemuda pada era tersebut menjadi sosok yg luar biasa. Bagaimana
dengan pemuda saat ini dengan lingkungan yg jauh berbeda. Lebih tenang dan
damai, namun bisa melenakan lho…
Jika kita memandang pada
kondisi yang ada dewasa ini, di tengah derasnya arus globalisasi dan informasi,
terlihat bahwa para pemuda tidak terarah pada tugas dan tanggung jawab yang ada
pada pundaknya sebagai generasi yang kelak akan melanjutkan kehidupan masa
depan, seharusnya selektif dan teliti terhadap arah dan dampak dari arus
globalisasi tersebut.
Perhatian sebagian
pemuda saat ini sudah tidak berorientasi kepada suatu usaha untuk menciptakan kondisi
masyarakat yang mengindahkan kebenaran dan kebaikan, baik karena kondisi
pribadi maupun karena rekayasa. Hal tersebut tidak hanya melanda pemuda-pemudi
non muslim tapi juga sangat berdapak pada pola hidup pemuda-pemudi muslim.
Fenomena ini sangat gamblang
terlihat pada saat kita menyaksikan betapa antusiasnya pemuda-pemudi muslim
untuk hadir dalam setiap acara-acara yang jelas merupakan usaha untuk
menjauhkan umat muslim dari pola hidup Islami.
Saat
ini generasi muda disibukkan dengan film-film amoral, cerpen percintaan
(picisan), pornografi (film, gambar, bacaan, pakaian, internet, dll), lagu-lagu
yang melalaikan, frustasi, dan cengeng. Mengagumi artis yang berpenampilan
glamour dan bermoral bejad, pecandu makanan/minuman terlarang. Dan kondisi-kondisi
lain yang menipu, maupun penipuan-penipuan yang dilakukan secara sistematis dan
terselubung.
Tema-tema
remaja yang berisikan tentang sex, song, sport terasa mempunyai daya magnet
tersendiri terhadap kehidupan remaja, tanpa terasa pemuda muslim berkerumum di
sekelilingnya, tak ubahnya seperti laron-laron yang berkerumum di lampu neon
yang sebenarnya justru membahayakan dirinya.
Kita
harus sadar bahwa sebagian dari kita tertipu oleh lingkungan yang hanya
terlihat secara lahir saja tetapi di dalamnya banyak hal yang melalaikan bahkan
bejad.
Penyelewengan
melanda di sekitar kita, termasuk pada keindahan/seni, fun, dan sport (olah
raga) yang diselewengkan. Memang kita harus akui bahwa seni merupakan bagian
dari keindahan atau justru keindahan itu adalah seni.
Hasil karya apapun,
aspek keindahan/estetika/seni menjadi penentu dalam hal kesempurnaannya. Akan
tetapi dunia seni sekarang bermakna rancu, dengan slogan “seni untuk seni”
dijadikan alat bagi para seniman untuk berkelit dari seni-seni amoral. Misal : eksploitasi
wanita telanjang sebagai obyek seni, tari-tarian erostis, syair-syair yang
merangsang birahi, atau bahkan merongrong ke-Esaan Alloh SWT.
Kita juga bisa melihat
kepada aspek sport yang kita terasa ternyata adalah media pamer aurot yang
sebenarnya dengan pakaian layak pun tidak mengurangi keleluasaan bergerak.
Juga dalam bidang
sosial, penyelewengan anti kebebasan dan sebuah kebinalan, pelestarian
kebudayaan sebagai bungkus dari pelestarian norma-norma anti agama, dan penyelewengan
ke-Maha Esaan Allah SWT (kemusyrikan). Dan juga penyelewengan
bahasa, dari kata “demi kepentingan orang banyak” sebagai ganti kata
keserakahan, kekuasaan untuk dirinya dan lain sebagainya. Dalam
kondisi pintu kejahatan (kebathilan) terbuka lebar dan kebenaran (keimanan) tertutupi
kabut seperti itulah, para pemuda muslim hidup di lingkungan sekitarnya.
Pertanyaan kepada mentee
untuk bahan diskusi:
1. Melihat kondisi lingkungan saat ini, bagaimana
seharusnya pemuda-pemudi islam harusnya bersikap ?
2. Apa peran yg dapat dilakukan pemuda-pemudi islam untuk
mengubah kondisi lingkungan tersebut ?
Bagaimana
Pemuda Muslim Bersikap
Dengan
karakteristik kepemudaan yang telah dijabarkan pada bagian sebelumnya dan
dengan tantangan kondisi dan lingkungan yang dihadapi oleh kita para pemuda
muslim, maka selayaknyalah kita mawas diri terhadap sisi mana kita akan
berpihak. Semangat pemuda yg sedang bergejolak, hendaknya juga dimanfaatkan
oleh para pemuda muslim untuk cermat melihat lingkungan dan berupaya untuk
mengubah bila kondisi lingkungan tersebut tidak sesuai dengan aturan yg Allah
SWT sudah tetapkan. Para pemuda adalah
sosok yg paling mampu membuat perubahan tersebut. Karena di dalam dirinya
terdapat serangkaian potensi yg tengah membara. Apa saja potensinya..? Berikut
adalah potensi yg dimilikinya:
1. Hamasah (semangat)
Dengan semangatnya Thomas Alfa Edison muda berhasil membuat
penemuan besar. Dan dengan semangat dan keberanian pula pemuda masa lalu
menggalang persatuan Nusantara dengan Sumpah Pemuda dan ngotot minta Soeharto
dan Hatt segera melakukan Proklamasi. Begitu pula ketika Reformasi 28 Mei 1998.
2. Quwwatul Jasad (kuat
fisiknya)
3. Qolban Saliman (masih bersih hatinya)
Pemuda adalah sosok yang polos, jujur, jernih dan tajam
nuraninya, belum terlalu banyak dikotori oleh ambisi dan pikiran-pikiran culas.
Sehingga jujur dalam menyatakan
kebenaran dan mengkritik kebathilan.
4. Aqlan Dzakkiyan (cerdas
akalnya)
Usia pemuda (pelajar) adalah usia yang sangat tepat untuk
mempelajari segala ilmu penetahuan. Pada usia ini ingatan seseorang masih kuat,
pikiran masih tajam, kreatif, dan inovatif. Maka benarlah jika ada pepatah
mengatakan, Belajar di masa muda bagai melukis di atas batu, belajar di masa
tua bagai melukis di atas air.
Potensi-potensi inilah yg digunakan setiap pemuda untuk mengubah
kondisi lingkungannya menjadi lebih baik, atau bahkan membuat tatanan kehidupan
baru berupa peradaban yg lebih baik dari peradaban sebelumnya. Kita lihat
beberpa contoh sikap para pemuda ketika melihat kondisi lingungan yg buruk
kemudian membuat sebuah usaha perbaikan.
Sikap Nabi Ibrahim
as yg mendapati ayahnya adalah seorang pembuat patung berhala yg disembah
kaumnya pada waktu itu. Ia pun membuat sebuah argumentasi sebagai bentuk
penyadaran kepada sang ayah:
Ingatlah ketika Ibrohim berkata
kepada Bapaknya, “Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak
dapat mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong sedikitpun ?” (QS. Maryam
(19):42)
Sikap kritis yang
ditunjukkan Nabi Ibrohim AS terhadap adat yang terjadi secara turun temurun
dari kaumnya. Seperti dikisahkan dalam Al Qur’an, Asy Syu’aro (26) :70-80
berikut (artinya):
“Ketika Ibrohim berkata kepada bapaknya dan kaumnya
‘Apakah yang kamu sembah?’”
Kemudian kaumnya
menjawab dengan tegas, walaupun dari suatu keyakinan yang salah.
“Mereka (kaumnya) menjawab : ‘Kami menyembah
berhala-berhala dan kami senantiasa menyembahnya’”.
Dengan kritis
Ibrohim AS menanyakan alasan (argumentasi mereka menyembah berhala dari segi
kemanfaatan dan pengetahuannya).
“Berkata Ibrohim, ‘Apakah berhala-berhala itu mendengar (do’a)mu sewaktu kamu
berdo’a (kepadanya) ? Atau dapatkan mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi
mudhorot?’”
Ternyata dengan
pertanyaan kritis seperti itu, mereka mengaku bahwa memang tidak ada
pengetahuan atasnya.
“Mereka menjawab, ‘(Bukan karena itu) Sebenarnya kami
mendapati nenek moyang kami berbuat demikian’”.
Kemudian Ibrohim AS
memberikan penjelasan
“Ibrohim berkata, ‘Maka apakah kamu telah
memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu terdahulu
? Karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Robb
semesta alam’”.
Kemudian Ibrohim
menerangkan fungsi Robb semesta alam tersebut dengan perkataan :
“(yaitu Robb) Yang telah menciptakan aku, maka Dia-lah
yang menunjuki aku, dan Robb-ku Dia-lah Yang memberi makan dan minum kepadaku,
dan apabila aku sakit Dia-lah yang menyembuhkan aku dan yang akan mematikanku
kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Dia-lah Yang amat aku inginkan
mengampuni kesalahanku pada hari qiyamah”
Begitulah sikap kritis yang ditunjukkan Nabi Ibrohim As yang beliau
memberikan contoh untuk tidak menerima begitu saja kebiasaan (adat) yang
terjadi di lingkungan sekitarnya apalagi menyangkut eksistensi Pencipta.
Ia pun akhirnya membuat sebuah usaha perbaikan untuk
menghilangkap penyembahan terhadap berhala dan kembali kepada penyembahan
terhadap Allah SWT. Cobaan yg menimpanya bukan cobaan yg ringan, Nabi Ibrahim
as berani melawan Tirani Raja Namrud yg menguasai peradaban pada waktu itu
dengan penyembahan terhadap berhalanya. Ia pun harus melewati cobaan api yg
luar biasa. Dibakar hidup2 sebagai hukuman atas penentangannya. Dan Allah SWT
pun menunjukkan kekuasaannya
Jadi begitulah
seharusnya para pemuda muslim bersikap terhadap lingkungannya yg kurang baik.
Mereka tidak hanya melihat dengan matanya. Namun memikirkan bagaimana agar
kondisi lingkungannya menjadi lebih baik lagi. Berfikir secara mendalam,
kemudian mengaplikasikan apa yang bisa dilakukannya untuk menciptakan kondisi
lingkungan yg lebih baik lagi. Melakukan
perbaiakn kea rah yg terbaik sebagaimana Allah telah gariskan di dalam
Al-Qur’an. Melakukan perubahan dengan kebaikan dan keindahan Islam sebagai
identitas diri kita.